Ilustrasi (internet)
Ilustrasi (internet)

Balutan Ekofeminisme Industri, Kasih Sayang Ibu pada Anak

MENITRIAU.COM - Tak dapat dipungkiri manusia yang pertama hadir di alam semesta ini adalah Nabi Adam, manusia pertama menurut literaturnya  sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi 60 kubit (hasta) yang sama dengan ukuran 27,432 meter. 

Dengan tubuh yang tinggi dan badan yang sempurna dari pada makhluk lainnya karena laki laki pertama yang mempunyai akal dan fikiran serta perasaan yang akan dijadikan  pelindung alam semesta beserta isinya. 

Maha suci sang pencipta yang tidak hanya menghadirkan sosok Adam tetapi lebih dari itu menghadirkan manusia sebagai pelengkap kesempurnaan yang diciptakan dari bagian tubuh adam berupa tulang rusuknya yang mengajarkan kepada umatnya suatu nilai kesempurnaan dari satu kekurangan yang dimiliki.

Hawa, begitulah sosok wanita yang disebut dalam sejarahnya, wanita yang hadir sebagai penyempurna kehadiran Adam di permukaan bumi ini. Lebih dari hanya sekedar berbicara fisik yang disebut wanita (women) atau dalam sejarah keilmuan berbahasa latin “Femina”  Hawa dihadirkan dengan kekuatan rasa “feeling” agar terjadinya keseimbangan dengan “thinking” sebagai pelindung di atas permukaan bumi ini. 

Akal (Thinking) dan Rasa (Filling) suatu kesempurnaan yang dihadirkan oleh sang pencipta.

Kekuatan Akal dengan membangun pola fikir (Image Building) diselaraskan dengan rasa peduli (social Empaty) dapat mewujudkan suatu bentuk perlakuan terhadap akal dan rasa (commitment). Begitu beruntungnya wanita “Femina” mendapatkan kecenderungan affective commitment yang lebih baik dari pada pria.

Pernyataan ini jelas bukan tanpa alasan karena hanya wanitalah yang bisa menjadi seorang ibu yang mempunyai  perasaaan cinta pada suatu organisasi (keluarga) yang memunculkan kemauan untuk tetap tinggal dan membina hubungan sosial serta menghargai nilai hubungan dengan keluarga. 

Para ilmuawan mengedepankan tentang ibu dan wanita dengan teori feminisme atau “Feminist Theories”
Pemimpin, rasa dan alam semesta suatu kenyataan yang terjadi dalam kehidupan, manusia menjadi pemimpin dilengkapi dengan feminisme sebagai bentuk wujud rasa agar ber “sosial Empaty” dengan tujuan menjaga keselarasan di bumi ini. 

Menurut Susan J amstrong bahwa fenimisme merupakan suatu aliran filsafat yang mempersoalkan, mempertanyakan dan menggugat cara pandangan dominan dan umum berlaku dalam era modern. Feminisme mendobrak cara berfikir cara pandang yang hanya satu pada fisik wanita saja. 
Perjuangan utama feminisme adalah meyakinkan manusia modern bahwa feminisme ada juga pada laki laki. Dengan kata lain bahwa ada sosok ibu dan rasa feminisme juga dalam diri laki-laki sebagai pemimpin alam semesta ini. Kehilangan nilai Feminisme  dengan budayanya seperti kehilangan rasa kepedulian kita pada alam sekitarnya. 

Kasih sayang sebagai bentuk rasa  dan affective commitment oleh femenisme pada lingkungan digambarkan sebagai Ekofeminisme yang hadir pada diri setiap manusia.

Ekofeminisme yang dihadirkan dalam bentuk kasih sayang seorang ibu/ wanita menjadi akan lebih beretika pada setiap individu manusia bukan hanya wanita saja tapi hadir juga dalam diri pria untuk berkasih sayang dan peduli dengan lingkungannya. Bagaimana China menjadi penguasa dunia di era millennial ini? 

Negara yang mendapatkan bonus Demografi sebelum Indonesia ini mempopulerkan istilah home industri, rumah dengan keberadaan seorang ibu dianggap menjadi faktor penentu suksesnya suatu negara. 

Feminisme atau wanita selama ini ditempatkan hanya pada sector domestic mengurus rumah tangga sama sekali tidak diperhitungkan dalam perhitungan ekonomi, sosial dan politik tampak berbanding terbalik di negara maju ini. 

wanita dengan rasa keibuan dinegara tersebut juga bisa memproduksi handphone, paku, gelas, piring dan teknologi baru lainnya tanpa harus meninggalkan sang anak yang disayang dirumah, bayangkan jika industri besar di China menarik pemikiran ibu-ibu disana untuk berfikir bahwa lebih berharga bekerja di industri ketimbang memproduksi suatu teknologi dan mendidik anak dirumah dengan mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tentunya anak anak di china tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu. 

Kekuatan ibu, rumah dan anak sebagai generasi bangsa berikutnya adalah kekuatan besar menjadi bangsa yang besar, dan sebaliknya jika perusahan besar mencitrakan diri sebagai sentral suatu perekonomian tanpa mengedepankan home industri sebagai mitra keberlanjutan melalui CD dan CSR nya maka disinilah titik nadir kegagalan industri mennghadirkan kekuatan besar pada industrinya, Perusahaan jangan beropini dengan kehadiran di lingkungan sosial sekan-akan menjadi sosok penyelamat baru bagi masyarakatnya, cerita masyarakat tempatan untuk menjadi karyawan atau sosok “makan gaji” seharusnya tidak terjadi. 

Perusahaan besar berkewajiban menciptakan ernterpreneur dan teknopreneur baru ditengah tengah masyarakat, dengan tumbuhnya mereka seperti jamur dimusim hujan inilah kesuksesan perusahaan yang berjiwa ekofeminisme pada masyarakatnya,  karena feminisme dapat membangun industri dan negara menjadi besar. 

Singa pun tak akan memakan anaknya, Industri yang di dalamnya terdapat sekumpulan manusia harusnya akan lebih melindungi masyarakat tempatan disekitarnya. 

A. Sony Keeraf meyebutnya dengan Etika Lingkungan. Industri seharusnya ber “Etika” dengan nilai ekofeminisme kasih sayang industri akan peduli tentang keberadaan budaya, ekologi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan konsesinya. Bagaikan Ibu yang menyayangi anaknya.   

Tak ayal jika di saat ini the power of emak emak menjadi slogan nyata atas kekuatan rumah, kekuatan ibu didalamnya dibalut dengan kasih sayang ibu pada anak-anaknya menjadi kekuatan bangsa ini.

Selamat Hari Ibu untuk Ibu-ibu Indonesia, 22 Desember 2018, I Love You Mama. **

*) Dr. Muhammad Syafi’i, MSi, Praktisi Sosio-Lingkungan UNRI



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)