Tugu Ikan Selais yang berdiri di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, depan Kantor Walikota Pekanbaru. (internet)
Tugu Ikan Selais yang berdiri di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, depan Kantor Walikota Pekanbaru. (internet)

Rumah Makan Padang vs Rumah Makan Melayu

MENITRIAU.COM - Liburan panjang akhir tahun membuat kerumunan keramaian di salah satu terminal kedatangan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. 

Pada layar informasi kedatangan terlihat waktu menunjukkan pukul 10.45  WIB, dan saya pun menuju ke pintu kedatangan bandara karena teman yang sudah lama tak besua mengunjungi Kota Bertuah Pekanbaru bersama istri dan 4 orang anak mereka. 

Sejenak kami bersalaman satu sama lainnya seperti mengulang kerinduan ketika mengingat kenangan sama-sama menimba ilmu di Kota Padang Sumatera Barat. 

Dengan langkah sambil bergurau senda dalam keramaian kami pun bergegas menuju parkiran mobil sambil mata mereka melihat dari sudut ke sudut bandara seakan akan mengisyaratkan kepada para pengunjung bandara  bahwa mereka baru pertama kali sampai ke Kota Pekanbaru.

Di dalam mobil hingga ke keluar bandara, Seperti orang yang lagi bertamu ke suatu daerah tentunya pertanyaan tentang kota, pembangunan kota, siapa prediksi yang menang di pilpres mendatang hingga kuliner khas Kota Pekanbaru menghiasi perjalanan kami ke penginapan. Tak salah jika pada pertanyaan tentang kuliner khas Melayu Riau semakin membuat suasana semakin akrab. Tanpa disadari memang saat itu siang sudah menjelang, tak ayal "kampung tengah" perut ini mulai memberikan tanda tanda untuk makan siang.

Pertanyaan yang bukan sekedar basa-basi seperti pemandu wisata yang bertanya tentu dengan pertanyaan mau makan siang dengan selera apa? Apakah masakan Jawa dengan khas manisnya, atau masakan Padang dengan pedasnya atau memang masakan Melayu sebagai masakan tuan rumah. 

Tidak heran tamu akan memilih  masakan melayu jawabannya dan mobil pun sudah saya arahkan ke salah satu rumah makan melayu di kota ini seakan akan sudah tahu jawaban dari tamu. 

Seperti kebanyakan rumah makan melayu di kota ini saat mobil diparkirkan terlihat parkiran mobil yang dapat dinilai bahwa pengunjung punya modal uang di kantong  yang dianggap punya ekonomi menengah ke atas. Tidak ada yang memakai roda 2 hanya barisan mobil mewah berbaris mentitahkan bahwa rumah makan Melayu punya kelas yang tak bisa dipandang sebelah mata.  

Setelah menempati meja yang sudah disediakan diantar oleh pelayan, kami duduk sepuluh orang di satu meja panjang. Menu yang dihidang pun datang. Di piring terlihat beberapa porsi sempedas patin, sempedas baung, beberapa porsi udang galah, goreng selais, dan tak tinggal pindang selais yang membuat persepsi bahwa bangsa melayu dengan peradaban sungainya memberikan simbol negeri ini kaya. 

Di kelilingi oleh 4 sungai besar salah satunya Sungai Siak di Kota Pekanbaru membuat keberadaan rumah makan Melayu sebagai industri hilir pengelolaan bidang perikanan sebagai bahan baku utama kuliner di negeri ini. 
Setelah selesai makan saya selaku tuan rumah beranjak menuju kasir. Kertas ditangan hasil perhitungan angka yang mencapai akumulasi jutaan rupiah bagi yang membayar selalu akan melabelkan rumah makan Melayu dengan kata "MAHAL". 

Sambil membayar sang kasir mulai memberikan penjelasan sambil mengeluh dengan ucapan persis seperti peraasan yang membayar. Harga 1 kg udang galah yang mahal hingga 1 kg baung dan selais yang cukup mahal. 

Persepsi saya mulai berubah dengan pertanyaan ke kasir mengapa mahal? Jawaban sang kasir udang dan ikannya sulit didapat. Jelas sudah bahwa dalam teori ekonomi bahwa ketersedian barang tidak banyak tetapi permintaan meningkat  maka harga akan tinggi. 

Tentu testimoni awal bahwa ikan sungai sudah sulit di dapat. Tersirat difikiran tentang mengapa rumah makan padang tumbuh subur dinegeri ini?

Tak sebanding dengan rumah makan padang yang cukup dengan Rp20 ribu untuk satu porsi nasi dengan daging rendang, tentunya menjadi idola bagi masyarakat terutama pada kalangan menengah ke bawah. 

Hadirnya rumah makan padang hingga masuk kedalam kampus bagi pasar mahasiswa dan tak pernah ditemui rumah makan Melayu hadir didalam kampus karena jangan coba-coba membeli satu porsi selais pindang yang perbandingannya bisa mencapai 3 kali lipatnya daging rendang.

Sungguh pertanyan yang ironis ada apa dengan keberadaan si" Selais Pindang"?

Ikan selais, udang galah dan jenis ikan lainnya merupakan jenis ikan sungai yang mendiami sebagian besar sungai yang ada di Provinsi Riau. Salah satunya di Sungai Siak Pekanbaru. Atas keberadaan spesies inilah Pemerintah Kota Pekanbaru membuat sebuah tugu berbentuk ikan selais pada jalan protokol tepat di jantung Kota Lekanbaru. 

Sungai Siak yang membelah Kota Oekanbaru  merupakan sungai terdalam di indonesia dahulu dikenal dengan keberadaan ekosistem perairan terbaik di Indonesia. Ini bukan tanpa alasan. Sejarah pernah mencatat dengan kedalaman 30 meter dan dipenuhi dengan ikan sungai yang beranekaragam menjadikan sungai siak menjadi situs peradaban bangsa melayu dengan memandang sungai sebagai pusat ekosistem.   

Tumbuhnya keramaian bisnis dengan limbah yang mengalir menuju sungai siak mengancam keberadaan si "Selais" mulai dari pendangkalan sungai siak hingga 15 meter dan baku mutu air yang diatas baku mutu yang dianjurkan sehingga tak layak konsumsi. 

Menurut Putri dalam tulisannya yang berjudul profil pencemaran air sungai siak di kota Pekanbaru dari tinjauan fisis dan kimia yang diterbitkan pada jurnal fisika Unand bahwa nilai TDS dan pH, konduktivitas listrik serta kandungan logam sungai Siak Pekanbaru dapat dikatakan tercemar karena semua parameter tersebut berada diatas nilai baku mutu air di Indonesia sesuai Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 04 Tahun 2010.

Rusaknya ekologi sungai hingga mengakibatkan punahnya si "Selais" berdampak masakan Melayu hanya untuk kaum mewah atau seperti "bourjuis" di Prancis menandakan rumah makan Melayu tak dapat bersaing dengan Rumah Makan Padang. Tak dapat dinikmati setiap hari seolah olah selais pindang tak mampu bersaing dengan daging rendang. 

Hanya tugu selais yang bisa dikenang akan melimpahnya sumber daya alam hingga anak cucu yang tak kan pernah merasakan lagi nikmatnya selais pindang akibat hebatnya si daging rendang. ***

*) Dr. Muhammad Syafi'i, M.Si, praktisi Sosio-Lingkungan Universitas Riau



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)