Gunung Kerinci. (intrrnet)
Gunung Kerinci. (intrrnet)

Gunung Kerinci, Saksi Bisu Potensi Wisata di Pulau Sumatera

MENITRIAU.COM - KERINCI - Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, waktu libur menjadi waktu istimewa yang sangat dinanti untuk sejenak menyepi dari bisingnya kesibukan dan rutinitas.

Tidak bisa dipungkiri, rutinitas kerja yang normatif kerap kali membuat sebagian orang mengalami kelelahan, bosan, jenuh, serta stress.

Salah satu cara untuk merefres kembali pikiran yang datang dari seabreg tugas yang menumpuk tersebut adalah berlibur. Momen yang paling tepat untuk kita bisa merasakan liburan tersebut adalah libur akhir tahun.

Mereka yang tinggal di pedesaan sangat menginginkan bisa berlibur di kota, sedangkan mereka yang hidup di kota-kota besar, sangat merindukan suasana pedesaan yang natural, sejuk, serta terdapat beraneka ragam destinasi wisata.

Salah satu destinasi yang harus kita sambangi adalah kaki Gunung Kerinci, daerah ini menjadi saksi bisu bagi kekayaan alam yang potensial untuk terus dikembangkan sebagai pilihan wisata di Pulau Sumatera. Sebutan bagi daerah ini dikenal dengan 'Sekepal tanah surga yang dicampakkan ke muka bumi'. Surga dalam kosakata kita sehari-hari kerap diidentikkan dengan tempat atau kondisi yang menggambarkan keindahan, kenikmatan, serta kebahagiaan.

Namanya juga surga, tidak ada manusia yang tidak ingin ke sana dan memperoleh kebahagiaan di dalamnya. Sejauh ini kita kerap kali beranggapan bahwa kebahagiaan hanya mungkin bisa diraih dengan faktor-faktor materi, uang yang banyak, makanan yang enak. Namun apakah benar-benar segampang itu?

Dari data penelitian yang penulis lakukan pada anak muda, terutama mahasiswa se-Kota Jambi, bahwa kebahagiaan juga termanifestasi lewat sikap religius (19,84 %), pikiran positif (45,23%), bekumpul dengan orang lain (34,12), prioritas sosial (22, 22%), serta prioritas diri (45, 23%). Pada bagian prioritas diri, kategori paling besar adalah refreshing dan indikator paling banyak dijawab ketika menyebut kata refreshing adalah jalan-jalan alias liburan.

Musim liburan kali ini, penulis seperti dikutip dari detik.com mengajak kita semua untuk menjejakkan kaki di ujung barat Provinsi Jambi, Kerinci. Akses untuk kita bisa sampai ke sana bisa melalui udara dan darat. Rute penerbangan ke sana setiap hari dengan tujuan Bandara Depati Parbo. Sedangkan akses darat telah tersedia berbagai armada travel eksekutif pariwisata, lengkap dengan full ac dan selimut, Anda akan merasa sangat nyaman. Dengan sekali memejamkan mata, Anda tahu-tahu sudah sampai di Gunung Kerinci. Ada dua rute travel yang tersedia untuk menuju Kerinci, yaitu dari Kota Jambi dan Kota Padang. Kita hanya akan dikenakan ongkos 160.000 rupiah.

Potensi Wisata Gunung Kerinci

Perbukitan yang terhampar, kesejukan dan aliran sungai serta danau yang menenangkan jiwa. Alam yang masih perawan tersebut menjadi sektor potensial yang terintegrasi dengan semangat warga untuk menghadirkan wisata yang profesional. Salah satunya dengan memanfaatkan BUMDes. Masyarakat desa di gunung Kerinci saat ini sedang berlomba-lomba untuk mengolah kekayaan tuhan dengan tangan-tangan artististik manusia.

Berbagai wisata baru pun muncul, seperti Taman Pertiwi, Taman Putri Tunggal, Pantai Pasir Panjang, Pantai Koto Petai, Rawa Bento, Danau Gunung Tujuh, Danau Kaco, Danau Lingkat, Taman Putri Ayu Maryam. Puluhan destinasi lainnya menawarkan wahana, kreasi, seni, pernak-pernik, spot foto, makanan, hingga adat dan kebudayaan.

Hari pertama menyambut pagi, penulis terlebih dahulu mengunjungi pemandian air hangat di Desa Sungai Medang, yang letaknya 3 km dari tempat penulis tinggal, Desa Koto Dian Rawang. Selain karena dinginnya suhu di Gunung Kerinci, juga karena rumah tempat penulis tinggal kehabisan air PDAM, Sehingga mandi di air hangat menjadi alternatif yang menyenangkan. Di sana banyak sekali warga yang antre, tersedia dua tempat untuk mandi, kolam air hangat dan kamar mandi pancuran. Mereka yang antri datang dari berbagai kalangan, mulai dari kakek-nenek hingga anak-anak.

Padek aso, keluar dari mulut warga yang selesai mandi, merupakan bahasa Kerinci yang artinya mandi di air hangat rasanya enak sekali. Mandi air hangat diyakini warga mempunyai banyak manfaat selain menyembuhkan berbagai penyakit kulit, asam urat, hingga sekedar menghangatkan badan karena telah lelah bekerja. Air hangat ini mengandung belerang yang datang dari kawah Gunung Kerinci, di lokasi yang sama terdapat tujuh tingkat air terjun. Banyak mitos yang beredar di tengah masyarakat, air hangat dan air terjun merupakan tempat pemandian tujuh putri dari khayangan.

Pesona Rawa Bento

Di Kerinci, belum lengkap jika tidak datang terlebih dahulu ke Kayu Aro. Di sanalah menjulang tinggi Gunung Kerinci dengan sejuta pesona. Sejauh mata memandang, terdapat hamparan kebun teh yang luasnya 3020 hektar, sedikit demi sedikit warga juga mulai menanam kopi. Kayu Aro sarat akan nilai sejarah, itu terlihat pada bangunan khas kolonial dan Jawa. Jangan ketinggalan untuk singgah dulu di Aroma Peco, di sana terdapat telaga, jembatan, pondok-pondok hingga sabana untuk berfoto, kami bersyukur saat itu matahari begitu cerah, sehingga paduan warna rumput, kebun teh, gunung, dan langit sangat memanjakan mata dan lensa.

Salah satu destinasi yang kami nanti-nanti menjadi tujuan utama kami di kawasan Kayu Aro adalah Rawa Bento, yang dikenal dengan The Amazon of Kerinci. Jika Gunung Kerinci adalah mahkotanya maka Rawa Bento adalah rahim yang menghubungkan berbagai keindahan di sekitar Kayu Aro. Posisinya yang strategis berada antara Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh, sehingga Rawa Bento tak kalah indah dibanding wisata ternama lainnya. Di tengah rasa penasaran, sambil menunjuk ke arah perahu dan speedboat, kami langsung membeli tiket di tempat homestay yang tepat berada pada akses utama mengelilingi Rawa Bento.

Haluan perahu yang kami tumpangi mulai berlayar, di rawa yang luasnya mencapai 1000 hektar, sebelas penumpang dalam satu keluarga yang memakai pelampung, duduk dengan asyik dan penuh tawa, menikmati aliran rawa yang menenangkan, sesekali perahu bergoyang, terhenti sejenak dengan gelombang air yang tidak menentu, membuat jantung berdetak kencang. Namun pengemudi perahu tersenyum sambil berkata tenanglah, dan nikmatilah,  tak apa.

Rawa yang dikeliling rumput dari jenis rumput yang biasa-biasa saja sampai yang paling langka, seperti rumput Leerxia Hexandra dan Eugenia Spicata. Beberapa pohon yang kaya warna dengan latar belakang Gunung Kerinci, beberapa kerbau, hingga ratusan burung dengan puluhan jenis terlihat juga pengunjung dan warga yang sedang memancing ikan.

Yang lebih spesial dalam perjalanan yang menghabiskan waktu dua jam tersebut juga terlihat jembatan kayu, jembatan gantung, hingga berbagai kreasi yang dibuat warga, membuat kami semakin betah menghabiskan liburan di sana. Akhirnya liburan di Rawa Bento berakhir dengan makan di tengah padang rumput, di sela-sela rawa, untuk menikmati sekaligus mengakrabkan diri dengan alam yang luar biasa.

Indahnya Desa Wisata Lempur

Hari kedua, sinar matahari yang tidak begitu cerah, di tengah rintik hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Lempur. Sebuah desa di ujung Selatan Kerinci yang pertama kali menyebut dirinya desa wisata di Kerinci. Jarak tempuhnya sekitar 33 km dari Kota Sungai Penuh. Di sana tampak awan turun dan langit mulai membiru pasca hujan, juga tampak jelas pemandangan Gunung Raya.

Rimbun pepohonan dan sawah menghijau, daerah ini yang paling terkenal sebagai penghasil Beras Payo. Kami pertama kali mengunjungi Danau Lingkat, danau dengan karakter warna air yang hijau, dengan luas 12 hektar dan ketinggian 1.100 meter, di pinggir terdapat sebuah pondok yang dikelola oleh warga dan pepohanan serta hutan lindung yang terjaga.

Danau yang disakralkan serta mengandung mistik ini membuat kami bertanya-tanya, apalagi saat itu kondisinya sedang hujan panas. Namun kami tidak gentar, kami memaksa diri untuk mengelilingi Danau lingkat dengan rakit, untunglah dibolehkan serta ditemani langsung oleh pengelola wisata.

Jangan jumawa, begitu kata bapak pengemudi rakit itu. Kami akhirnya menyatu dengan Danau Lingkat, sambil melambai tangan, mengabadikan banyak sekali foto, serta berdiri tegak, menghela nafas sejenak. Pemandangan yang permai kehijauan dan ketenangan untuk sejenak bermeditasi, wajarlah desa ini disebut desa wisata. Sebagai desa wisata yang menggoda, Lempur juga memiliki wisata yang punya nama besar, yaitu Danau Kaco.

Tapi sayang karena cuaca tidak mendukung kami mengurungkan niat untuk ke sana. Selain itu di atas Danau Lingkat terdapat Danau Nyalo dan Danau duo yang sambung menyambung dengan takaran volume dan warna air serta keindahan yang berbeda tentunya.

Akhirnya, kami menyudahi perjalanan akhir tahun di Kerinci, yang menjadi pusat wisata domestik maupun mancanegara. Sebagai putra daerah, selalu terbesit dibenak untuk melihat wisata di Kerinci sebagai peluang besar yang menjanjikan untuk dikembangkan secara serius. ***



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)