Pernak-pernik perayaan Imlek di Jalan Karet Kota Pekanbaru. (internet)
Pernak-pernik perayaan Imlek di Jalan Karet Kota Pekanbaru. (internet)

Etno Imlek dan Invansi Industri

MENITRIAU.COM - Pagi itu bertepatan hari kamis tanggal 5 Februari 1981, suara teriakan bayi mungil baru saja lahir diatas permukaan bumi, rasa kebahagian sepasang suami-istri orang Melayu Kepulauan dan Pelalawan tergambar jelas di pagi itu. 

Pagi yang indah tak jauh di Pesisir Sungai Siak dalam sebuah perkampungan diberi nama Kampung Bandar sebagai lambang peradaban etnik melayu Provinsi Riau. 

Suasana pagi itu juga tampak lebih cerah dari pada pagi-pagi biasanya. Warna merah tiba tiba mewarnai kampung itu. Mulai dari pakaian, lampu dan pernak pernik berwarna merah. Keberadaan suku Melayu yang sangat terbuka terhadap budaya baru tampak jelas pada pagi itu, si pemilik baju merah berbeda kulit dan bermata sipit tak layaknya masyarakat asli kampung itu terlihat saling bercengkrama dan “bebual” logat asli Melayu Riau mendatangi rumah bayi mungil itu.

Baju merah dan “kue mueh” hadir dalam suatu perayaan besar bagi pembawa budaya dari negeri tirai bambu tersebut. Untaian kata “Gong Xi Fat Cai” (Selamat Tahun Baru) seperti kata yang sudah biasa di ucapkan sekali dalam satu tahun, mengucapkan kata selamat dan diberikan kekayaan serta kesehajteraan bagi komunitas mayoritas berprofesi sebagai pedagang ini tentunya suatu doa pengharapan agar manusia yang hadir ditahun ini diberikan keselamatan dan rezki yang melimpah dalam suatu perayaan disebut dengan Imlek.

38 tahun sudah berlalu tepat di tanggal yang sama pagi ini suasana sudah sangat jauh berbeda  dengan pagi imlek tahun-tahun sebelumnya, walaupun suasana dengan pernak-pernik ceria didominasi warna merah dengan gambar naga tampak disepanjang jalan pasar tengah. 

Pasar yang tidak jauh dari Sungai Siak ini berdampingan dengan pasar wisata Pasar Bawah masih ada, tetapi rasa hidup berdampingan dengan alam dan sosial sudah jauh berbeda. Budaya yang awalnya datang dari pesisir sungai Siak berasal dari “china laut”  yang bermukim dari Kepualauan Meranti hingga Kepualauan Riau sudah jauh berbeda. 

Etno Imlek yang selama ini mau hidup berdampingan dengan alam dan sosialnya sekarang sudah membangun komunitas baru. Sugai yang menjadi peradaban dan juga kepercayaan bagi warga tionghoa dari zaman dahulu sangat jelas tampak berubah. Budaya imlek yang pertanda keselamatan dan kemakmuran tidak lagi menyatu pada alam dan berdampingan dengan tatanan sosial. 

Sungai yang rusak bukan tanpa alasan. Tumbuhnya industry di kota Pekanbaru seharusnya juga mengandung unsur keselamatan dan kemakmuran bagi lingkungan. Coba saja di iventarisir bisnis yang ada mulai dari pesisir sungai seperti Jalan Senapelan, Jl. Ir Juanda, Jl. Setia Budhi, Jl. Riau maupun jalan-jalan protokol seperti Jalan Jend. Sudirman dan Jl. Tuanku Tambusai. 

Terlihat jelas deretan rumah toko (ruko) yang dahulu berdiri rumah rumah orang melayu. Lebih dalam, diinventarisir mayoritas pemilik bukan lagi orang melayu tapi sudah beralih kepemilikan kepada warga Tionghoa. Ini jelas pengabulan doa setiap tahun di sampaikan dalam perayaan Imlek. Kekayaan dan kesejahteraan terlihat jelas dikala telah terjadinya “invansi “ kepemilikan hak milik demi suatu alasan yang disebut industri. 

Adanya efek dari sebagian masyarakat melayu tempatan  tidak sejahtera ditengah masyarakat Tionghoa yang sejahtera menanandakan doa hanya untuk sebatas komunitas tertentu.

Pemilik modal yang didominasi oleh warga Tionghoa seharusnya memberikan kontribusi besar terhadap perlindugan lingkungan baik itu lingkungan alam maupun lingkungan sosial.  

Sungai sebagai pusat peradaban tidak harus di cemari hanya karena adanya proses invansi industry. Sosial dan kebudayan melayu asli sebagai bentuk hidup saling berdampingan dengan “sipemilik modal” seharusnya terjaga dengan baik. 

Dalam tulisan Gehriteresa dengan judul Pedagang Tionghoa di Pasar Tengah Pekanbaru terbitan JOM FISIP UNRI 2017 mengungkapkan bahwa Kepercayaan yang selalu dianggap sakral oleh warga yang disebut keberuntungan “Feng shui”. 

Menurut pedagang Tionghoa bahwa yang terpenting itu adalah bagaimana caranya jujur dalam berdagang. Seperti menjaga kualitas dan mutu barang-barang yang dijual para pedagang. 
Kata menjaga ini seharusnya bukan saja pada barang dagangan tetapi dapat dimplementasikan jujur pada alam dan pada masyarakat sosial di sekitarnya. 

Bergesernya nilai budaya dan terus terjadi invansi yang aktif  industri harusnya menjadi catatan perayaan imlek tahun ini. Doa yang dipanjatkan kepada tuhan bukan semata-mata hanya untuk suatu komunitas. Walapun berbeda kepercayaan, untuk doa keselamatan dan kemakmuran sewajibnya untuk semua. 

Agar semua mendapatkan keadilan dalam hidup di negeri melayu yang selalu membuka tangan selebar-lebarnya bagi pendatang yang datang di negeri bertuah ini. Tidak lagi jauh jarak antara”si miskin dan si kaya” tandanya negeri sejahtera dan indahnya hidup berdampingan tanpa pemisah pertanda kita kaya dengan budaya. ***

*) Dr. Muhammad Syafi'i, M.Si, praktisi Sosio-Lingkungan Universitas Riau



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)