Nasi Padang. (internet)
Nasi Padang. (internet)

Pilpres, Nasi Padang, dan Orang Minang

MENITRIAU.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyantap aneka menu masakan Padang saat jalan-jalan di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Sejumlah netizen berkomentar bahwa hal itu menunjukkan kebesaran jiwa Jokowi; meski kalah telak di ranah Minang, namun Jokowi tidak menaruh benci atau dendam. Namun, di sisi lain, kemudian muncul tagar boikot masakan Padang di media sosial karena kekalahan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin di ranah Minang dari perhitungan sementara Pilpres 2019.

Gagasan, kesimpulan, atau aksi tersebut sah-sah saja dan boleh jadi kelihatan keren. Tapi itu semua sebetulnya menunjukkan kegagalan memahami watak orang Minang sebagai sebuah potret utuh alih-alih jepretan yang hanya terbatas pada pemilihan presiden yang sifatnya musiman. Pemahaman terhadap watak 'urang awak' sejatinya akan memberikan potret yang jelas bagaimana identitas orang Minang berkorelasi linear pada pilihan politik, kecenderungan intelektual, maupun semangat dagang yang mereka miliki. 

Pertama, orang Minang berwatak inklusif. Ini adalah DNA budaya orang Minang yang sudah turun temurun, baik secara individual atau komunal. Secara individual, orang Minang lebih memilih bergaul, berteman, dan berinteraksi dengan mereka di luar Minang. Ini bukan karena tidak mau berteman sesama orang Minang, tapi lebih sebagai konsekuansi etos merantau di mana makna dan hakikat orang Minang tegak setelah meninggalkan kampung halaman. 

Merantau bermakna menambah lingkaran pergaulan, memperluas horizon pengetahuan. Secara komunal, watak inklusif ini jauh lebih kentara. Orang tak akan menemukan kampung Padang di seantero Nusantara, berbeda dengan kampung China, kampung Jawa, atau kampung Nias. Kalaupun orang Minang berkumpul sesama orang Minang ketika berdagang semisal di Tanah Abang, ini sama sekali bukan menunjukkan eksklusivisme orang Minang, melainkan semata-mata menjalani prinsip "ada gula ada semut".

Dalam konteks politik, semisal Pilpres 2019 ini, inklusivisme tersebut mengkristal dari keragaman pilihan politik tokoh-tokoh Minang. Meskipun bisa dikatakan mereka adalah Muslim dan paham betul dengan konsep adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendi syariah dan syariah bersendikan kitabullah, yakni Al Quran), namun semuanya cair terkait afiliasi politik. Kita bisa menemukan tokoh-tokoh Minang menjadi tokoh kunci yang menjadi tim kampanye atau sekadar mendukung capres yang berbeda. Di kubu Jokowi di antaranya Andrinof Chaniago atau Buya Syafii Maarif, sementara pendukung Prabowo di antaranya Fadli Zon dan Rizal Ramli. 

Inklusivisme membuat orang-orang Minang tetap nyaman dan menikmati perbedaan sehingga bisa menempati posisi sentral di wilayah politik yang tidak lagi sama tanpa perang klaim yang "mengkafirkan". Dalam hal tertentu, inklusivisme ini juga menjadi pegangan buat orang Minang yang manggaleh, sebuah istilah dalam bahasa Minang untuk kegiatan berdagang. 

Orang Minang tidak pernah merasa rugi atau keberatan berbagi rahasia dapur atau resep masakan Padang. Itulah kenapa kita banyak menemukan rumah makan Padang, terutama di luar Sumatera Barat, yang dimiliki bukan oleh orang Padang. Kebanyakan mereka pernah bekerja di rumah makan Padang. Selama bekerja di sana, si empunya rumah makan bukan saja membuka rahasia masakan Padang apa adanya di dapur, bahkan juga mengizinkan siapapun yang bekerja di sana untuk membuka usaha sendiri tanpa minta jatah lantaran berbagi resep dan rahasia.

Karenanya, ajakan untuk memboikot masakan Padang tidak rasional dan cenderung reaksional. Sebagai pembentuk selera Nusantara, orang butuh masakan Padang. Bahkan Jokowi pun menyukai masakan Padang, sebagaimana SBY yang menyukai sate Padang sebagai salah satu makanan favoritnya. Bertindak dengan akal pendek tak bakal berumur panjang. Lagi pula siapapun yang melawan selera hanya akan jadi pecundang. 

Bagi orang Indonesia, terlepas ada atau tiada pemilu, masakan Padang puluhan kali lebih enak daripada pasta dan pizza. Sebagaimana bakso, nasi goreng, atau gado-gado yang tak bisa digantikan oleh burger McD atau ayam goreng KFC. Sederhana saja.

Kedua, orang Minang sangat egaliter. Siapapun yang berkunjung ke Istana Baso Pagaruyuang di Sumatera Barat, tidak akan menemukan singgasana raja. Alasannya, bagi orang Minang hubungan sosial termasuk dengan raja dibangun di atas prinsip duduk sama rendah tegak sama tinggi. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.

Etos egaliterianisme suku Minang ini acapkali menjadi sumber kesalahpahaman banyak orang. Banyak yang menyamakan ini dengan semangat pembangkang. Padahal yang tengah dilakoni oleh orang Minang merespons kekuasaan adalah spirit egaliterianisme. Dari pengalaman saya sebagai dosen di perguruan tinggi di Padang, suatu hal yang lumrah ketika mahasiswa berdebat dengan dosen bukan saja di forum terbuka, bahkan di media sosial seperti Facebook atau WhatsApp. Meski ada jarak dan posisi yang berbeda, watak egaliter ini mendorong keberanian intelektual bagi orang Minang.

Watak egaliter ini tak akan luntur, lebih-lebih berhadapan dengan tangan-tangan kekuasaan. Pertanyaan menarik, terutama terkait dengan Pilpres 2019 adalah mengapa suara Jokowi terjun bebas di Sumatera Barat? Presiden Jokowi bukan tidak berjasa bagi ranah Minang. Kawasan Mandeh adalah salah satu "bakeh tangan" Presiden Jokowi yang berdampak meningkatnya arus kunjungan wisatawan ke ranah Minang dan peningkatan pendapatan asli daerah dan masyarakat sekitarnya. 

Setelah SBY, Jokowi adalah presiden yang relatif sering mengunjungi ranah Minang meski tanpa sambutan hangat dari masyarakat. Banyak analisis sudah dikemukakan oleh pakar menyangkut faktor-faktor kekalahan sang petahana di ranah Minang. Namun untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat watak orang Minang selanjutnya.

Ketiga, orang Minang menjunjung tinggi rasionalitas. Hemat saya, watak orang Minang sebagai masyarakat rasional merupakan faktor penentu yang utama atas kekalahan pasangan Jokowi di Sumatera Barat. Ada tuduhan bahwa kekalahan Jokowi karena diterjang hoaks bahwa Jokowi identik dengan PKI, keturunan China dan lain-lain. Bila ditelaah, baik di media sosial atau lapangan, hoaks ini memang mendera masyarakat Minang. Hanya saja, perlu diingat bahwa usia sebuah hoaks itu pendek. Ia cepat diklarifikasi seiring dengan kuatnya akses masyarakat terhadap media arus utama dan media sosial. Menuduh orang Minang gampang termakan hoaks tidak lagi relevan.

Rasionalitas politik masyarakat Minang tegak kuat dengan buhulan prinsip alun takilek alah takalam, ikan di aia alah tau jantan jo batinonyo --belum terkilat atau bersinar sudah gelap lagi, ikan di air sudah ketahuan jantan atau betinanya. Bagi mayoritas orang Minang, Jokowi dianggap tidak mandiri dalam bersikap. Ia dikelilingi oleh lingkaran kuasa dan pendukung yang berseberangan dengan perspektif Islam yang dipahami oleh orang Minang. Gelombang LGBT, tokoh-tokoh atau mantan pendukung PKI, Jaringan Islam Liberal, dan Islam Nusantara berada satu kubu atau menyatu dengan koalisi partai pendukung Jokowi. Meski di sana ada sosok K. H. Ma'ruf Amin, namun eksistensinya tidak mampu menghalau kelompok-kelompok yang bertentangan secara diametral dengan kelompok Islamis di kubu Prabowo.

Orang Minang tidak hanya mampu membaca yang tasurek (tersurat), tapi juga mampu membaca yang tasirek(tersirat), tidak hanya mampu melihat yang nyata di depan mata tapi juga mampu melihat yang tersembunyi di belakang. Itu karena orang Minang memiliki kearifan yang didik dan terlatih dalam tatacara dan pola yang tertata. 

Karenanya, meskipun Presiden Jokowi sudah begitu pemurah memperhatikan Sumatera Barat, sebuah kawasan yang tidak mendukungnya pada 2014 silam, lewat pembangunan infrastruktur dan pariwisata yang hebat, namun itu masih dianggap hampa karena Jokowi tidak mampu membereskan lingkaran pendukungnya yang tidak beroleh tempat di hati orang Minang. 

Peradaban material yang ditawarkan Presiden Jokowi selama ini belum bisa menutupi isu-isu keagamaan dan identitas yang amat sentral bagi urang awak di ranah Minang.

*) Donny Syofyan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Sumber: detik.com



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)