H. Hadimihardja. (istimewa)
H. Hadimihardja. (istimewa)

Perspektif Sekolah yang Mengkarbit Anak

MENITRIAU.COM - Pengkarbitan kepada anak didiknya terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada  proses pembelajaran.

Sekolah terlihat sebagai sebuah "industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan, pekerjaan rumah yang menumpuk, tugas-tugas yang hanya dalam bentuk lembaran kerja.

Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator Kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah.

Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam memfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran anak didik diporsir untuk menghafal atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah  birokrasi?

Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan. Manfaat apa yang dimiliki anak jika anak di suruh menghapal kalimat-kalimat dalam buku pelajaran?

Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku kesehatan mereka sebagai anak menjadi semakin senjang.

Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikannya dalam dunia nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk. Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyonsong kehidupannya.

Lihatlah mereka semuanya belajar dengan cara yang sama. Membangun kognitif 90 ?ngan 10 ?ektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak didik tidak tahu apa-apa, guru berpikir, dan anak didik dipikirkan, guru berbicara, dan anak didik mendengarkan, guru mendisiplinkan, dan anak didik didisiplinkan, guru memilih dan mendesakkan pilihannya, anak didik hanya mengikuti guru bertindak dan hsnya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek, dan anak afalah objek dari proses pembelajaran (Freire,1993). 

Model pembelajaran Banking System ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah.

Mengkompetensi Anak Ketidakpatutan Pendidikan

Anak adalah anugerah Tuhan sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab (Nature versus Nurture) bagaimana? karena ada dua pengertian kompetensi.

Yaitu kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson seorang psikolog 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai kompetensi sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut "Bahwa orangtua banyak melahirkan intervensi diri setelah mereka melakukan serangkaian test intelegensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program test untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum" (Minimum Basic Skill) dalam mata  pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari  pelaksanaan program ini dilaporkan.

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik  semata. Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membangun secara serempak pikiran, hati, fisik, dan jiwa anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Disinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "KARAKTER" .

Dimana guru mendidik anak menjadi "Good and Smart"  tenang hati dan pikiran. Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan " how learn to learn" pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, berpikir kritis, dan cakap dalam mrmecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan kreatifitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomin tubuh  manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa semangat "encourige" tidak dapat muncul tiba-tiba pada diri anak.

Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai dan menyaysngi mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral litermy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup.

Kecerdasn plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan. Inilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antarannpengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik.

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia  yang tenang hati dan tenang pikiran "good and smart" merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan KERJA KERAS  yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua.

Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi  kepada kebutuhan anak, sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Ataupun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua, mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi SUPERKIDS. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal  dari lahirnya era anak-anak karbitan. Lihatlah nanti anak-anak karbitan ini menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi ORANG DEWASA YANG KEKANAK-KANAKAN.

*) H.Hadimihardja, pemerhati pendidikan Riau/mantan Kadisdik Provinsi Riau. 



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)