Dr Muhammad Syafi'i. (istimewa)
Dr Muhammad Syafi'i. (istimewa)

Bukti Upaya Preventif, Bukan Kuratif di Desa Bebas Api

MENITRIAU.COM - 22 tahun yang lalu, pada tahun 1997 Riau, Indonesia pernah mengalami bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Ribuan hektar hutan terbakar di bumi melayu lancang kuning ini.

Ekologi hutan terancam punah, ribuan umat manusia terkontaminasi bahaya penyakit ISPA karena kualitas udara yang tak bersahabat lagi dengan manusia sehingga menggambarkan betapa mahal udara yang tuhan berikan. 

Prof Adnan Kasri pakar lingkungan Universitas Riau melalui antara sewaktu itu mengatakan bahwa pencemaran udara di Riau sudah mengkhawatirkan. Tingkat konsentrasi di Kota Dumai di atas 800 bahkan mencapai 900 polutant jelas akan berdampak besar pada kehidupan manusia.

Tanpa sadar zona kuratif sudah harus dilakukan. Upaya "pengobatan" alam sungguh luar biasa. Mengembalikan udara dengan asap dimana mana dan semakin menyiksa penduduk bumi ini sungguh tak sebanding dengan kekuasaan Tuhan.

Bayangkan syukur kita dengan turunnya hujan, tetapi harus dilakukan dengan hujan buatan. Modifikasi cuaca hujan buatan menghabiskan hingga Rp20 miliar ini sungguh sudah upaya kuratif yang harus dilakukan.

Haruskah kita terus berjuang memadamkan api, membuat hujan buatan atau menambah bangsal bangsal rumah sakit penuh pasien ISPA dengan pengobatan seperti orang yang divonis kanker stadium 4?

Karena Tuhan sudah berikan kita thinking and filling (akal dan rasa) tentu sewajarnya kita mempergunakannya. 

Upaya preventif/pencegahan semestinya dilakukan

Konsep preventif sangat membudaya ini dimulai dari lapisan bawah masyarakat. Dimulai dari rumah, RT/RW, dusun hingga desa. Program Free Fire Village (Desa Bebas Api) di prakarsai oleh PT. RAPP
Bukti nyata usaha preventif dimulai pada awal tahun 2014.

Saya merasakan ikut terlibat di dalamnya. Masuk kampung keluar kampung bersama tim mensosialisasikan program desa bebas api ini. Sebut saja mengajarkan masyarakat membuka lahan dengan baik, bercocok tanam yang ber local wisdom, menjelaskan regulasi hukum pemerintah, memperkuat kelembagaan Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga memberikan reward and punishment kepada masyarakat ratusan juta rupiah berbentuk program pengembangan desa bagi desa yang tidak terjadi kebakaran hutan di desa binaan. 

5 tahun telah berlalu upaya kognitif, afektif dan motorik dalam suasana preventif tak kenal lelah dan pantah menyerah tim selalu lakukan. 

Dari 4 desa tahun 2014, 18 desa 2015 dan 2018 sudah 27 desa di 3 kabupaten di Riau yang terlibat sebagai zona desa bebas api. 

Pada skala insiden kebakaran hutan dari tahun 2014 mengalami penurunan dari 0,18 ?ri total area yang dicangkup tahun 2018 sudah berkurang menjadi 0,03%, Kompas 2018

FFVP efek mestinya terus berlanjut. Usaha panjang preventif tak boleh berhenti begitu saja. Setiap tahun mesti terus berprogram dengan inovasi inovasi yang peduli lingkungan. Kerja masih panjang.

Penguatan pemberdayaan masyarakat dan industri perlu berkelanjutan. Pelestarian hutan, penghijauan dan penataan air dalam gambut tentunya masih catatan panjang bagi program. Teruslah selalu berbuat

Pagi ini di Kota Bersemai Kota Dumai, udara yang enak di hirup melalui hidung, jarak pandang seakan tak terbatas menandakan nikmatnya udara pagi pertanda minimnya angka pollutant, Free Fire Vilage  Effect. (Testimoni)

*) Dr. Muhammad Syafi'i M.Si, Pengamat Sosio-Lingkungan Universitas Riau



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)