Masjid Raya Pekanbaru. (internet)
Masjid Raya Pekanbaru. (internet)

Mengenal Masjid Raya Tertua di Riau

MENITRIAU.COM - PEKANBARU - Masjid Raya Pekanbaru atau Masjid Senapelan Pekanbaru merupakan salah satu masjid tertua di Riau yang terletak di Kota Pekanbaru, Indonesia. Masjid ini dibangun pada abad ke-18, tepatnya tahun 1762.

Masjid ini dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, sebagai sultan keempat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura, dan kemudian diteruskan pada masa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai sultan kelima dari Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Sejarah

Dari wikipedia.org, masjid ini didirikan pada masa kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah ketika memindahkan dan menjadikan Senapelan (sekarang Pekanbaru) sebagai Pusat Kerajaan Siak. Sesuai adat Raja Melayu pada saat itu, apabila terjadi pemindahan pusat kerajaan, maka harus diikuti dengan pembangunan Istana Raja, Balai Kerapatan Adat, dan Masjid. Ketiga unsur tersebut wajib dibangun sebagai representasi dari unsur pemerintahan, adat dan agama yang biasa disebut Tali Berpilin Tiga atau Tungku Tiga Sejarangan.

Di akhir tahun 1762, dilakukan upacara menaiki ketiga bangunan tersebut. Bangunan istana diberi nama Istana Bukit, balai kerapatan adat disebut Balai Payung Sekaki dan masjid diberi nama Masjid Alam.

Masjid ini pertama kali bernama masjid Alam (diambil dari nama kecil sultan Alamuddin yaitu Raja Alam). Setelah itu namanya diganti menjadi masjid Nur Alam. Namun, akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Raya Pekanbaru.

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini mengalami beberapa renovasi. Yaitu pada tahun 1755, renovasi dilakukan dengan pusat pelebaran daya tampung masjid. Lalu pada tahun 1810, pada masa pemerintahan Sultan Assaidis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin, masjid ini kembali direnovasi dengan menambahkan fasilitas tempat berteduh untuk pada peziarah makam di sekitar area masjid. Dilanjutkan pada tahun 1940, ditambahkan sebuah pintu gerbang masjid yang menghadap ke arah timur.

Renovasi yang terakhir, terjadi pada tahun 1940, renovasi ini merupakan renovasi dari keseluruhan masjid yang bisa disebut sudah sangat tua. Renovasi ini dimulai dari tahun 1755 sampai tahun 1940. Ini artinya masjid tersebut sudah berusia hampir 2 abad lamanya.

Revitalisasi

Sejak 2009, masjid ini masuk proyek revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau. Dengan adanya revitalisasi yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Riau, revitalisasi ini menghancurkan bangunan aslinya. Akibat proyek tersebut, yang tersisa hanya 26 tiang bekas bangunan lama yang ada di sisi timur, selatan, barat, dan utara. Ada enam tiang penyanggah tengah yang kini tersisa dan dijadikan bentuk menara. Hal ini membuat masjid ini menjadi satu-satunya masjid yang memiliki menara dalam bangunan. Menara itu terpaksa dibuat karena bekas sisa tiang penyanggah masjid masa lalu.

Tiang-tiang sisa bangunan lama memang masih dipertahankan. Tapi bentuk asli masjid sudah diratakan dengan tanah. Kini bangunan masjid itu begitu megah, sama seperti bangunan masjid modern masa kini. Dulunya, bangunan masjid bergaya arsitektur melayu kuno.

Status

Dengan memertimbangkan masih adanya peninggalan sejarah dan budaya yang tersisa, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional merekomendasikan untuk mengubah statusnya dari Bangunan Cagar Budaya menjadi Struktur Cagar Budaya, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 209/M/2017 tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru pada 3 Agustus 2017.

Setiap cagar budaya yang sudah ditetapkan mempunyai payung hukum, yaitu Undang Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dengan status barunya sebagai Struktur Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru, tetap mendapatkan pelindungan seperti sebelumnya.

Sayangnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar, Sumatera Barat resmi menurunkan status Masjid Raya Pekanbaru, yang selama ini sebagai Bangunan Cagar Budaya menjadi Struktur Cagar Budaya.

Informasi ini langsung disampaikan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar, Nurmatias kepada CAKAPLAH.COM, Selasa (6/3/2018) usai rapat bersama Plt Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim, di kantor Gubernur Riau.

Dia menerangkan, pihaknya telah melihat dari sisi Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 memang Masjid Raya Pekanbaru mengalami perubahan yang cukup signifikan.  

Atas kondisi itu, akhirnya pihaknya melakukan kajian bersama Tim Cagar Budaya Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional diturunkan statusnya menjadi struktur cagar budaya dari bangunan cagar budaya.

"Karena cagar budaya yang asli tinggal 20 persen, sedangkan sisanya 80 persen sudah berganti dengan yang baru. Makanya atas pertimbangan, agar masjid tersebut masih menjadi cagar budaya, kami menurunkan statusnya dari bangunan cagar budaya menjadi struktur cagar budaya," katanya.

Keputusan itu menurut Nurmatias berdasarkan hasil kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya terhadap elemen-elemen yang ada di Masjid Raya Pekanbaru itu.

"Jadi elemen Cagar Budaya yang tinggal 20 persen itu terdapat di dalam masjid, namun bagian luar masjid rata-rata sudah elemen baru semua," bebernya.

Apakah Masjid Raya Pekanbaru masih bisa naik status sebagai bangunan cagar budaya, Nurmatias menyatakan perihal itu sangat berat. Seharusnya sebelum melakukan pelestarian harus melalui kajian, penelitian dan masyarawah dengan masyarakat.

"Kemarin yang menjadi permasalahan itu tidak ada musyawarah yang intens dengan kami, sehingga banyak bagian-bagian dari bangunan masjid itu yang berubah saat malakukan pelestarian," ujarnya.

"Kita sangat menyayangkan. Tapi dengan kebijakan pemerintah, daripada masjid itu diubah statusnya tidak lagi cagar budaya, lebih baik diturunkan menjadi Struktur Cagar Budaya," sambungnya.

Karena itu, Nurmatias berpesan agar ke depan pemerintah daerah dapat melakukan pelestarian cagar budaya dengan kaidah-kaidah pelestarian cagar budaya, apakah itu keaslian bentuk, bahan dan pengerjaannya.

"Karena perubahan bangunan masjid cukup banyak, kalau kita ubah statusnya menjadi bangunan biasa, tentu ini akan menjadi sebuah masalah bagi masyarakat," tukasnya.

Masjid Raya Pekanbaru berada di kawasan Pasar Bawah. Di kompleks masjid yang dibangun sejak 250 tahun silam itu juga ada pemakaman keluarga Sultan Siak.

Sejak 2009, masjid ini masuk proyek revitalisasi yang dilakukan Pemprov Riau. Dengan adanya revitalisasi yang dikerjakan Dinas PU Riau, hal itu menghancurkan bangunan aslinya. Revitalisasi hanya menyisakan 26 tiang bekas bangunan lama. ***



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)