H. Hadimihardja. (istimewa)
H. Hadimihardja. (istimewa)

Idul Fitri dan Hidup Sederhana

MENITRIAU.COM - Ramadhan 1440 H sudah sampai penghujung dan kita akan memasuki 1 Syawal 1440 H yakni Idul Fitri. Kehadiran Idul Fitri oleh masyarakat Muslim disambut dengan suka cita.

Suasana suka cita itu tidak hanya terlihat pada golongan atau strata masyarakat tertentu saja, tetapi terjadi pada semua golongan, tua-muda, miskin-kaya. Pada perayaan idul Fitri, semua berbaur menjadi satu dalam merayakan hari kemenangan setelah berhasil melewati ujian sebulan penuh untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Idul Fitri dinilai sebagai hari terlahirnya kembali setiap manusia dalam keadaan suci. Siapapun boleh merayakan hari kemenangan ini, tapi ada satu hal yang perlu diingat, jangan sampai apa yang telah kita lakukan amalan ibadah di bulan Ramadhan sebulan penuh itu menjadi sia-sia belaka.

Seperti kita lihat, karena terlalu suka cita menyambut dan merayakan Idul Fitri, membuat kita lupa diri dalam arti terlalu berlebih-lebihan dalam merayakan Idul Fitri itu. Boleh saja kita merayakannya dengan membeli sesuatu dengan yang baru atau menyediakan makanan yang lebih mewah dari hari biasanya.

Tapi apa yang kita perbuat itu sebaiknya jangan sampai berlebih-lebihan, atau memaksakan diri jika tidak mampu, apalagi sampai berhutang, sebab nantinya juga harus mengembalikan piutang tersebut.

Terlepas dari itu semua yang perlu diingat adalah rayakanlah Idul Fitri dengan kesederhanaan. Hindarilah diri dari perbuatan yang tidak baik dalam merayakan hari yang Fitri, perbanyak do'a, atau melakukan kepefulian sosial bagi tetangga, atau handai taulan yang kurang beruntung, jika dibandingkan dengan keluarga kita.

Alangkah baiknya jika umat Islam menyiapkan diri dalam menyongsong Idul Fitri dengan sebaik-baiknya, tanpa harus memperlihatkan kemewahan. Agama Islam mengajarkan umatnya agar hidup dengan penuh kesederhanaan dan melarang hidup secara berlebih-lebihan, apalagi hanya untuk "Nya" atau pamer.

Allah tidak menyukai orang yang hidup berlebih-lebihan. Hidup  sederhana dapat dipahami hidup secara wajar, tidak berlebihan, tetapi bukan berarti miskin, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Mari  kita awali dalam diri kita "Hasrat Untuk Berubah". Karena karakter diri  yang berujung pada ketaqwaan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh ini haruslah jadi bahan renungan bagi kita semua.

Mari kita hilangkan karakter pada persaingan negatif dan individualis. Oleh sebab itu mari kita merubah mulai dari diri sendiri. Karena bila harta kita yang hilang, sebenarnya tidak ada yang hilang. Bila kesehatan kita yang hilang, artinya ada sesuatu yang hilang, tetapi  bila karakter diri kita yang hilang, maka kita akan kehilangan segala-galanya. Untuk itu mari kita rayakan Idul Fitri 1440 H ini dengan "Hidup Sederhana" dan menghilangkan Karakter hidup bermewah-mewahan. Semoga bermanfaat. ***

*) H.Hadimihardja, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Paripurna Darul Ihsan, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)