H. Hadimihardja. (istimewa)
H. Hadimihardja. (istimewa)

Merawat Kesucian Idul Fitri Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa

MENITRIAU.COM - Bulan Ramadhan 1440 H tinggal beberapa hari lagi. Itu artinya kita warga muslim segera memasuki bulan baru yaitu "Bulan Syawal". 

Beriring dengan hal tersebut. Umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri yang dianggap sebagai puncak dari indeks kesalehan religiusitas peribadatan selama satu bulan penuh selama di bulan Ramadhan. 

Hal demikian memang sangat logis, sebab selama bulan Ramadhan  kita diwajibkan berpuasa sesuai firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah  ayat 185 yang artinya "Barangsiapa  diantara kamu hadir di bulan Ramadhan itu wajib  baginya berpuasa".

Di dalam puasa terkandung nilai-nilai untuk menahan segala bentuk hawa nafsu, dan menekankan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah bagi masing-masing umat muslim sebagaimana diriwayatkan HR. Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas berkata "adalah Rasulullah SAW pada tiap-tiap malam bulan Ramadhan dijumpai oleh malaikat Jibril saat mengajarkan ayat-ayat al-quran kepadanya. Sesungguhnya Rasulullah ketika ditemui oleh malaikat Jibril, maka ia mengerjakan kebaikan lebih cepat dari angin yang berhembus". 

Titik kulminasi dari segala amal ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan itulah yang pada gilirannya mengantarkan kita kembali kepada fitrah (suci). Sehingga dalam konteks itu, pemaknaan Hari Raya Idul Fitri menjadi sangat erat kaitannya dengan tujuan akhir yang hendak dicapai setelah melaksanakan kewajiban maupun ibadah sunnah selama di bulan Ramadhan. 

Itulah sebabnya selain Hari Raya Idul Fitri dapat diartikan sebagai Hari Kemenangan bagi umat Islam, dapat pula diartikan sebagai Hari Raya Kesucian, karena "Pertaubatan" di dalamnya selama Ramadhan.

Namun perlu dipahami dan dihayati sebagian kita umat Islam bahwa Kesucian yang sudah dicapai tersebut, seringkali luntur dengan mudah seiring berlalunya Ramadhan dan bermula di bulan Syawal (Idul Fitri). 

Jadi Idul Fitri diibaratkan bak pisau bermata dua bagi umat Islam. Apabila mampu merawat "Kesucian" yang telah dicapai dengan susah payah setelah menjalankan ibadah Ramadhan, maka kualitas keimanan dan prilakupun semakin baik. 

Sebaliknya jika tidak mampu merawat hakikat "Kesucian" dan pemaknaan Idul Fitri, sudah pasti kualitas keimanannya akan memudar, demikian pula segala prilaku dan perbuatannya akan menjadi semakin buruk dan bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Dengan merayakan Idul Fitri secara sederhana, maka realitas adanya ketimpangan di masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin. Dan dengan sendirinya akan tercipta rasa senasib dan sepenanggungan yang secara tidak langsung akan memperkuat rasa "Persatuan dan Kesatuan Bangsa".

Akhirnya, merayakan Idul Fitri sebagai bentuk kemenangan umat Islam dalam mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadhan mutlak tidak boleh dipahami sebagai langkah akhir belaka. 

Akan tetapi, harus dipahami sebagai langkah baru dengan tantangan yang baru pula, yang merawat "Kesucian) diri pasca keberhasilan melewati Ramadhan.

Dengan merawat "Kesucian" diri secara terus menerus, maka sudah tentu Persatuan dan Kesatuan Bangsa tidak akan dapat terganggu gugat oleh pihak manapun. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. ***

*) H. Hadimihardja, Ketua DKM Paripurna Darul Ihsan Kelurahan Delima Flamboyan IV RT 03 RW 01 Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)