H. Hadimihardja. (istimewa)
H. Hadimihardja. (istimewa)

Waspadai Sekolah Berbahaya: Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

MENITRIAU.COM - Sekolah berasal dari bahasa latin yaitu Skhole yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Jadi sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan mereka yang utama, yaitu bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa-masa anak-anak dan remaja.

Kegiatan dalam waktu luang inilah digunakan untuk mempelajari cara berhitung, membaca huruf-huruf, dan mengenal tentang moral (budi pekerti dan estetika). Untuk mendampingi dalam kegiatan sekolah anak-anak didampingi oleh seorang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya pada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran.

Kata sekolah saat ini telah berubah artinya menjadi bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat memberi dan menerima pelajaran dengan berbagai struktur dan aturan. Jadi sekolah bukan lagi tempat bermain dan belajar yang memyenangkan, tetapi dapat menjadi penjara bagi anak-anak.

Kita misalkan ditengah-tengah hutan belantara salah satu wilayah berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan "status disamakan dengan manusia". Sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus disamakan, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum mewajibkan bahwa untuk lulus dan dapat ijazah : setiap murid harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai maksimal yang telah ditetapkan pada setiap mata pelajaran. Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah : Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari, dan Menyelam.

Mengingat sekolah ini berstatus "disamakan dengan manusia", maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana mulai dari : Elang, Tupai, Bebek, Rusa, dan Katak. Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, dan terlihat beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu.

Elang sangat unggul dalam mata pelajaran terbang, dia memiliki kemampuan yang berada di atas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-meliuk, menyambar hingga bertengger di dahan sebuah pohon yang tinggi.

Tupai sangat unggul dalam mata pelajaran memanjat, dia samgat pandai, lincah, dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu. Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam mata pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyeberangi dan mengitari kolam yang ada di dalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari, kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di tempat ini. Larinya tidak hanya cepat, melainkan sangat indah bila dilihat dan diamati. Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul pada mata pelajaran menyelam. Dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk ke dalam air dan kembali muncul diseberang kolam.

Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa di mata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka maksimal yang telah ditetapkan di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Jadi inilah awal dari semua kekacauan itu. Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran  lain yang tidak dikuasainya dan bahkan tidak disukainya. Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja dia gagal, dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam. Tupai pun demikian, ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasilnya bukannya bisa terbang, tapi tubuhnya penuh dengan luka dan memar disana sini.

Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti mata pelajaran berlari, meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang, tapi ia sedikit putus asa pada saat mengikuti mata pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali pula ia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainnya, meskipun semua sudah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.

Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang ridak dikuasainya. Perlahan-lahan elang kehilangan kemampua terbangnya, tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat, katak sudah tidak kuat lagi menyelam, karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah ini, dan sangat menyedihkan  adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup di lingkungan dimana dulu mereka tinggal, ya kemampuan alami  mereka terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan, karena  tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya, dan kondisi ini sampai saat ini masih terus berlangsung dan berada dalam kategori "SEKOLAH BERBAHAYA"

Dalam buku yang berjudul "Dangerous School" Irwin A Hyman dan Pamela A  Snook (1999) memaparkan tentang sekolah berbahaya. Buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman dan pengalamannya dalam menjalankan profesinya sebagai psikolog sekolah (school psychologist) selama lebih dari tiga puluh tahun. Dari berbagai kasus yang ditanganinya dan juga kasus-kasus lain yang diamatinya, dia mengungkapkan tentang sekolah berbahaya yang ditandainya dengan adanya sejumlah kesalahan perlakuan fisik (physical maltereatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological maltreatment) di sekolah dan di kelas.

Yang menjadi pusat perhatian tentang kesalahan-kesalahan perlakuan fisik di kelas yaitu berkenaan dengan pemberian hukuman fisik (corporal punishment) oleh guru terhadap muridnya. Banyak ragam pemberian   fidik yang ditemukan, mulai dari menyuruh murid melakukan push up sampai pada tindakan pemukulan, biasanya dengan dalih pendisiplinan.. Tindakan hukuman fisik ternyata tidak hanya menimbulkan rasa sakit secara fisik, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan Stress Traumatik (posttraumatic stress disorder), dan masalah-masalah emosional bagi yang mengalaminya. Dalam beberapa kasus, tindakan hukuman fisik pun telah menimbulkan berbagai pengaduan (complain) dari para orangtua, bahkan sampai menyeret pelakunya ke pengadilan.

Selain mengungkapkan terhadap kesalahan-kesalahan perlakuan fisik Irwin A Hyman dan Pamela A Snook juga mengungkapkan kesalahan-kesalahan dalam tindakan psikologis yang meliputi :
1. Pendisiplinan dan teknik pengawasan
    berdasarkan ketakutan dan intimidasi
2. Rendahnya jumlah interaksi humanis, yaitu guru  kurang menunjukkan perhatian, kepedulian, kasih sayang dalam berkomunikasi dengan muridnya, sehingga murid menjadi terabaikan, terkucilkan dan tertolak.
3. Kesempatan yang terbatas bagi murid untuk mengembangkan ketrampilan dan rasa kehormatan dirinya secara memadai
4. Menciptakan sikap ketergantungan dan kepatuhan Justru pada saat murid sebenarnya mampu mengambil keputusan secara mandiri.
5. Teknik pemotivasian kenerja murid dengan banyak mencela, tuntutan berlebihan, tidak rasional, serta mengabaikan tingkat usia dan kemampuan murid
6. Penolakan terhadap kesempatan pengambilan resiko yang sehat seperti penolakan pengesplorasian gagasan murid yang tidak lazim dan tidak sesuai dengan pemikiran gurunya.
7. Ungkapan kata-kata kasar, mengejek, penghinaan, dan pencemaran nama baik.
8. Menggertak
9. Kegagalan dalam mengatasi suasana, ketika ada murid  yang diolok-olok, dicemarkan nama baiknya oleh teman-temannya.

Kedua bentuk kesalahan perlakuan tersebut pada dasarnya telah mengabaikan rasa KEADILAN dan DEMOKRASI dalam Pendidikan. Oleh karena itu Irwin A Hyman dan Pamela A Snook memandang perlunya upaya untuk  menciptakan iklim sekolah yang sehat dan kehidupan Demokratis di sekolah.

Mari sama-sama kita pahami bahwa "Hari ini mereka seorang anak, Besok mereka jadi pemimpin" Anak-anak adalah harapam dunia, warisan kita, investasi kita. Dan pada kenyataannya, mereka adalah harapan kita untuk dunia yang indah. Kemudian, mereka merupakan asset yang sangat berharga. Namun, sampai sekarang ini, mereka adalah kelompok yang paling rentan dalam masyarakat kita. "Kondisi hidup, makanan, kesehatan, dan pendidikan, serta kebijakan yang relevan merupakan faktor penting yang mempengaruhi perkembangan anak-anak kita. Fakta mencengangkan mengungkapkan secara nasional :
1. Lebih dari 114 juta anak-anak kehilangan pendidikan dasar
2. Sekitar 774 juta orang dewasa buta huruf
3. Sekitar 200 juta anak-anak yang kurang mampu dengan usia di bawah 5 tahun
4. Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, lebih dari 6 juta meninggal karena penyakit yang bisa disembuhkan
5. Ada sekitar 300 juta anak-anak tidur dalam kelaparan setiap hari. Hanya 8 ?ri mereka menjadi korban kelaparan atau keadaan darurat lainnya. ***
 
*) H.Hadimihardja. Pemerhati Pendidikan, Mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau.



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)