Sungai Hulubandar. (istimewa)
Sungai Hulubandar. (istimewa)

Ketidakmengertian yang Menghancurkan

MENITRIAU.COM - Hulubandar sesungguhnya hanyalah sebuah anak sungai dari ribuan anak sungai yang ada di sepanjang aliran Sungai Kampar. .

Sungai yang juga di sebut Sungai Rasau itu, terletak di Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan dan Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.  Sungai ini panjangnya tak sampai seratus kilo meter dengan lebar lebih kurang 20 hingga 30 meter. 

Hari ini, tidak ada penduduk yang bermukim di sana, tidak ada warning apapun dalam melakukan aktifitas apapun di sungai tersebut.

Bagi orang orang yang baru datang sungai Hulubandar mungkin samasekali tak menarik. Kesan yang di tangkap mulai dari muara sungai hingga lebih kurang tiga kilo meter kehulu sungai hanya ada rasa seram, sebab di samping kiri kanan sungai banyak kuburan berserakan.

Karena sungai ini seakan tak ada fungsi di tengah masyarakat selain untuk sekadar tempat mencari ikan maka sungai ini terkesan boleh diapakan saja termasuk tindakan yang merubah struktur sungai.

Sejak hampir belasan tahun terakhir sungai Hulubandar seakan tak berdaya menghadapi berbagai tindakan ketidak mengertian pihak pihak yang ada di sekelilingnya.

Secara lingkungan , sungai yang dahulu sebagai sumber kehidupan, dimana airnya dapat diminum tanpa perlu dimasak, sekarang sudah mengandung limbah yang dapat menimbulkan sakit perut jika meminum airnya.

Hutan yang rimbun di kiri kanan sungai di luluh lantakkan sehingga hampir tak menyisakan pohon pohon pelindung. Airnya yang dulu mengalir deras kini bagai telaga yang tenang sebab hulu sungai di porak porandakan secara serakah oleh perusahaan dengan menutup Hulu Sungai dan menggantikan dengan kanal bagi keuntungan mereka.

Akibat ulah dan tindakan yang tak mengerti tersebut maka sungai Hulubandar benar benar keritis. Sungai yang dulu mencapai kedalaman hingga enam meter kini terutama pada bahagian hulu sungai sekedar dilewati perahu kecil yang kedalaman lunasnya setengah meter saja sudah tidak bisa.

Permukaannya yang dulu beriak dengan kecupan tangkapan ikan kini justeru dipenuhi rumput kumpai yang tidak menyisakan sedikitpun alur untuk dapat dilalui.

Mungkin banyak pertanyaan apa sih hebatnya sungai Hulubandar, apa urusannya sampai begitu dipersoalkan? 

Memang secara ekonomi termasuk jika diukur dari manfaat hari ini baik bagi masyarakat apalagi perusahaan yang sengaja memporak porandakannya,sungai ini seakan tidak berguna.

Para kaum yang mengerti soal lingkungan atau pura pura mengerti lingkungan akan dengan enteng berujar bahwa kerusakan lingkungan memang terjadi tetapi dengan mudah pula menuding kerusakan itu karna ulah masyarakat.

Dengan argumen itu pekerjaan mereka selesai, dan masyarakat karena bahagian dari yang tertuding ya bersembunyi di tengah ketidak berdayaan.

Tetapi satu hal yang tak pernah jadi titik perhitungan, bahwa Hulubandar adalah mahkota bagi ujudnya Kabupaten Pelalawan. Hulubandar adalah jejak sejarah yang membuat kemashuran masyarakat nya sebab disinilah sejarah dimulai.

Banyak kita yang tidak sadar--inipun dapat saya maklumi sebab banyak hal yang terbatas-- perubahan nama dari Sungai Rasau ke Hulubandar bukankah terjadi begitu saja. Secara terminologi bahasa 'bandar' itu sama dengan kota. Artinya kawasan ini dulunya adalah sebuah kota awal dari Kerajaan Pelalawan.

Banyaknya kuburan di kiri kanan sungai memberikan petunjuk lagi tentang kuatnya argumen yang mengatakan Hulubandar adalah kawasan sejarah kota.

Petunjuk lain adalah ditemukannya berbagai peralatan termasuk sejumlah mata uang saat dilakukan normalisasi sungai pada tahun 2013 lalu.

Dari aspek ini maka sesungguhnya kehancuran Sungai Hulubandar merupakan tindakan pembiaran bagi sejarah peradaban sebuah bangsa.

Terasa aneh manakala hingga hari ini tidak ada sedikitpun inisiatif   terutama dari Pemerintahan Kabupaten Pelalawan untuk peduli terhadap peninggalan sejarah yang daerah lain mungkin sama sekali tidak punya.

Lebih mengherankan lagi ketika menyaksikan pemerintah daerah seakan masabodoh manakala menyaksikan kehancuran kawasan yang mestinya dapat di jadikan petunjuk bukan saja bagi Kerajaan Pelalawan tetapi mungkin sejarah Kerajaan Melayu  yang hingga kini belum ditemukan jejak dimana sesungguhnya pusatnya.

Secara pribadi saya tidak punya kepentingan apa apa selain sekedar mengingatkan semua pihak untuk sama sama kira menghargai warisan sejarah yang kita punya. Apalagi warisan sejarah itu sama sekali belun kita selidiki tetapi sudah hancur. 

Semua kaum pemikir di muka bumi ini mengingatkan pentingnya menghargai sejarah, jangan ulah ketidak mengertian, ulah keangkuhan ulah keserakahan,ulah sok kuasa, ulah merasa bagak, sampai mengakibatkan kehancuran peninggalan sejarah yang kita punya.

Ada triliunan dana yang dikeluarkan sejumlah negara hanya untuk tau akan kebenaran dan menemukan bukti melalui peninggalan sejarah.

Ada bangsa, kaum  yang mendapat penghormatan begitu tinggi setelah di ketahui sejarahnya melalui kajian yang dilakukan arkiolog. Ada pertikaian panjang tentang sebuah kisah sebab belum ditemukan bukti sejarah yang kuat, seperti halnya tentang titik pusat kerajaan Sriwijaya dan pusat Kerajaan Melayu Tua.

Ada hal hal yang dapat kita ukur dan kita nilai secara materi, tetapi harus disadari tidak semua hal dapat kita ukur dari sisi itu.

Terkadang kita bercerita dengan bangga akan garis sejarah yang kita punya, terapi begitu garis sejarah itu di ganggu kita diam seribu bahasa, tanpa melakukan upaya apa apa.

Kita begitu bangga mendengar dan menggunakan semboyan bahwa "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya" tetapi begitu sejarah yang kita punya di porak porandakan, kita malah bungkam seribu bahasa, menyerahkan tugas pembelaan kepada orang lain. Ironisnya lagi terkadang banyak kita secara diam-diam bersubahat pula dengan pihak pihak perusak.

Hulubandar menurut hemat saya adalah sejarah peradaban bagi Kerajaan dan sekarang Kabupaten Pelalawan, sejarah peradaban Provinsi Riau dan jangan jangan sejarah peradaban Nusantara. Pantaskah kawasan yang dapat kita jadikan petunjuk sejarah kita biarkan hancur sementara belun satupun petunjuk yang ada padanya kita ambil untuk dijadikan bukti? ***

*) Fahrullazi, masyarakat Pelalawan dan pemerhati sosial dan budaya. 



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)