Peserta Kunjungan Jurnalistik foto bersama Kasubag Publikasi Biro Humas Setjen Kemen-LHK dan pejabat Balai Taman Nasional Bunaken, Jumat (27/9/2019). (istimewa)
Peserta Kunjungan Jurnalistik foto bersama Kasubag Publikasi Biro Humas Setjen Kemen-LHK dan pejabat Balai Taman Nasional Bunaken, Jumat (27/9/2019). (istimewa)

Dari Kunjungan Jurnalistik ke TN Bunaken: Taman Nasional Merupakan Kawasan Pelestarian Alam (1)

MENITRIAU.COM - MANADO - Delapan orang wartawan dari Pekanbaru, Riau, memperoleh kesempatan untuk menikmati keindahan Taman Nasional Bunaken Wilayah I Bagian Utara. 

Kesempatan tersebut datang dari Biro Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen-LHK) dalam agenda kunjungan jurnalistik "Menggali Potensi Eko Wisata di Taman Nasional Bunaken" yang diselenggarakan pada Kamis-Ahad (26-29/2019).

Delapan wartawan tersebut adalah empat orang pemenang Lomba Karya Jurnalistik yang mengangkat tema "Kerja Nyata Manggala Agni untuk Negeri", yakni Harry B Koriun (riaupos.co), Henny Helyati (Riau Pos), M. Akhwan (fotografer), dan Nasrul Jamil (team tvone). 

Sedangkan empat orang wartawan lagi berasal dari panitia Lomba Karya Jurnalistik kerja sama Kemen-LHK dengan PWI Riau, yakni Amril Jambak (Sekretaris PWI Riau), Zulmiron (Ketua Panitia), Kunny Masrohanti (Sekretaris), dan Dara Fitria (Bendahara).

Perjalanan dilakukan pada Jumat (27/9/2019) dimulai dari Jetty Grand Luley, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Rombongan menggunakan dua kapal, yakni Kapal Wisata TN Bunaken dan Kapal Patroli TN Bunaken. Rombongan berjumlah 13 orang yang terdiri dari 8 orang wartawan, dan lima orang dari Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dipimpin Firdaus, Kepala Sub Bagian Publikasi Biro Humas Setjen Kemen-LHK.

Bersama Humas Kemen-LHK, dan dipandu Balai Taman Nasional Bunaken, rombongan menuju pasir putih Bungin, Pulau Nain, Pulau Mantehage, Pulau Manado Tua, dan Pualau Bunaken.

Sebelum berangkat ke Taman Nasional Bunaken Wilayah I Bagian Utara, rombongan diterima Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Bunaken, Nikolas Lolik, Jumat (27/9/2019).

Dalam pemaparannya ia menyampaikan, Taman Nasional Bunaken ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai taman nasional pada tahun 1991. Obyek wisata ini luas sekitar 89.065 hektare, berada di wilayah Kabupaten Minahasa, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara.

Di sebelah utara taman nasional, ada yakni Pulau Nain, Manteage, Bunaken, Silades, Manado Tua. Sedangkan di bagian selatan, meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Lokasi ini merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan atau pesisir. Pulau-pulau di dalamnya kaya akan flora dan fauna. 

Kasubag TU Balai TN Bunaken, Nikolas Lolik didampingi Kasubag Publikasi Biro Humas Kemen LHK, Firdaus, memaparkan TN Bunaken. 

Perairan Taman Nasional Bunaken memiliki 13 genera (genus) karang hidup yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. 

Taman Nasional Bunaken memiliki ekosistem terumbu karang yang sangat kaya.Terdapat sekitar 390 spesies terumbu karang di wilayah ini. Spesies alga yang dapat ditemui di Taman Nasional Bunaken adalah Caulerpa, Halimeda dan Padina, sementara spesies rumput laut yang banyak ditemui adalah Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassaodendron ciliatum. Taman Nasional Bunaken juga memiliki berbagai spesies ikan, mamalia laut, reptil, burung, moluska dan mangrove. 

Sekitar 90 spesies ikan tinggal di perairan wilayah ini. Diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps, dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus).

Di daratan, pulau ini kaya akan Arecaceae, sagu, woka, silar dan kelapa. Selain itu, Taman Nasional Bunaken juga memiliki spesies hewan yang tinggal di daratan, seperti rusa dan kuskus. Hutan mangrove di taman ini menjadi habitat bagi kepiting, lobster, moluska, dan burung laut.

Di tempat wisata ini banyak kegiatan wisata bahari yang ditawarkan, seperti diving, snorkeling, berjemur, dan berenang di laut. 

Di pantai Kalase, yang berada di pinggir Kota Manado, terdapat sebuah diving center bernama Dragonet yang pernah menjadi sekretariat acara Sail Bunaken yang memecahkan rekor MURI dengan lebih dari 2.000 penyelam mengikuti upacara bendera di dasar laut.

Pada akhirnya, Nikolas Lolik mengungkapkan, dari TN Bunaken pihaknya menyumbangkan pemasukan ke negara pada tahun 2018 sebesar Rp2 miliaran. "Dan kita harapkan di tahun ini, pendapatan bisa meningkat dari tahun sebelumnya," tutup Niko. 

125 Juta Hektar

Sebelumnya, Firdaus, Kepala Sub Bagian Publikasi Biro Humas Setjen Kemen-LHK dalam penyampaian pembukanya mengungkapkan, Kawasan hutan Indonesia luasnya 125 juta hektar. Dari 125 juta hektar itu, sekitar 28 juta hektar merupakan kawasan konservasi, 35 juta hektar kawasan hutan lindung dan 70 juta hektar kawasan hutan produksi.

Dan kawasan konservasi yang 28 juta hektar itu, dibagi menjadi 512 unit pengelolaan. 54 di antaranya adalah Taman Nasional (TN). Dari 54 taman nasional itu, 7 di antaranya taman nasional laut. Dan taman nasional laut antara lain Pulau Seribu, Karimun Jawa, Togean, Wakatobi, Takabonerate, Teluk Cendrawasih dan Bunaken.

"Nah, kawasan Taman Nasional (TN) Bunaken, Sulawesi Utara masuk dalam kawasan konservasi. Bahkan taman laut Bunaken ini merupakan segitiga terumbu karang dunia, karena memiliki keragaman hayati yang luar biasa yakni sekitar 390 spesies yang terdiri dari berbagai spesies ikan, moluska, reptil dan mamalia laut ada di TN Bunaken ini," ungkap Firdaus.

Firdaus menjelaskan, taman nasional itu merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi. Dimana ada zona inti, zona rimba, zona pemanfaatkan, zona tradisional dan zona religi. (bersambung) 



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)