Letjend (Purn) Syarwan Hamid.
Letjend (Purn) Syarwan Hamid.

In Memoriam Letjend TNI (Purn) Syarwan Hamid: Tokoh Nasional yang Cinta Tanah Kelahiran

MENITRIAU.COM - Kita kembali kehilangan tokoh. Beliau adalah Letjend TNI (Purn) Syarwan Hamid. Almarhum meninggal di usia 77 tahun karena sakit.

Siapa yang tak kenal sosok almarhum. Semasa hidup namanya makin moncer manakala di akhir era orde baru, tepatnya di tahun 1996, Pak Harto (Presiden terkuat kala itu) memberikan kepercayaan kepada Pak Syarwan sebagai Kassospol ABRI.

Suatu jabatan yang sangat bergengsi, karena ikut mengatur, memainkan bahkan menentukan alurnya warna politik di tanah air.

TNI (ketika itu lebih populer dengan istilah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ABRI) di era orde baru memegang peranan yang sangat penting. Apalagi TNI-AD yang menjadi kesatuan almarhum.

Makanya tak lama setelah jadi Kassospol ABRI, sekira tahun 1997, Syarwan Hamid dipercaya sebagai salah seorang Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi ABRI.

Suatu jabatan yang juga sangat strategis kala itu. Karena di era orde baru, MPR adalah Lembaga Tertinggi negara yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Presiden. Selain menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) semacam RPJMN saat ini.

Ketika almarhum menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI itulah berhembus angin reformasi. Yang disambut baik oleh almarhum. 

Sejarah kemudian mencatat almarhum menjabat sebagai Mendagri pertama di era reformasi (1998-1999) di bawah Pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Sebagai putra kelahiran Siak, Riau, 10 November 1943, kami para mahasiswa asal Riau yang ketika itu menuntut ilmu di Jakarta, sangat bangga dengan sosok Pak Syarwan.

Seolah ada rasa bangga yang membuncah setiap kali orang menyebut nama Pak Syarwan yang hebat itu.

Bahkan kami tak akan segan-segan menyebut: "Beliau itu kan orang Riau. Jenderal bintang tiga satu-satunya anak jati Riau."

Lalu suatu ketika. Di saat beliau menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, dimana saat itu Provinsi Riau mulai riuh dengan isu suksesi. 

Karena pada tahun 1998, akan digelar pemilihan Gubernur Riau.

Ada satu isu yang ketika itu sangat dominan: Gubernur Riau harus putra daerah. Puluhan tahun Gubernur Riau selalu produk impor dari Pusat...

Kami, beberapa aktivis mahasiswa asal Riau berkesempatan diterima oleh Pak Syarwan di ruang kerjanya sebagai Wakil Ketua MPR RI.

Pembicaraan pun mengalir. Mulai dari soal Riau yang selama puluhan tahun hanya jadi "sapi perah" pusat. Sumber Daya Alam Riau yang luar biasa, namun tidak memberikan kesejahteraan yang berarti bagi masyarakat Riau.

Hingga soal bagaimana sulitnya putra daerah Riau bisa berkarir di tingkat nasional. "Saya dapat jabatan Wakil Ketua MPR ini saja sudah sangat alhamdulillah," begitu kira-kira ucap almarhum kepada kami.

Memang iya. Baru almarhum orang Riau dalam sejarah orde baru yang berhasil mengemban amanah sehebat itu.

Lalu pembicaraan juga meliuk-liuk ke soal suksesi di Riau. Apa kata almarhum ketika itu?

"Kalau daerah lain bisa gubernurnya putra daerah, Riau tentu juga harus bisa. Kita tidak menuntut lebih kok. Begitu provinsi lain, begitu juga kita Riau," demikian kira-kira almarhum membela Riau.

Alhamdulillah akhirnya dalam suksesi Gubernur Riau ketika itu, terpilih putra daerah terbaik Riau, Saleh Djasit yang juga berasal dari TNI.

Dalam perjalanan kemudian, almarhum Pak Syarwan banyak memberikan kontribusi untuk kemajuan Riau. 

Mulai dari pemekaran kabupaten/kota di Riau hingga pembangunan SDM Riau. Salah satunya dengan didirikannya sekolah SMU Plus di Riau, dimana Pak Syarwan sebagai pendiri.

Kalau di kancah nasional, tentu tak terbilang jasa dan kontribusi almarhum.

Otonomi daerah yang lahir di awal era reformasi adalah bukti komitmen Pak Syarwan terhadap keutuhan NKRI.

Di era Pak Syarwan sebagai Mendagrilah lahir UU No 32/1999 dan UU No 33/1999 yang menjadi dasar dan pedoman utama otonomi daerah. 

Meski juga harus kita akui, otonomi daerah yang dirumuskan Pak Syarwan kini hampir tergerus habis.

Namun pikiran-pikiran Pak Syarwan yang brilian dan pro reformasi tak akan pernah kita lupakan.

Selamat jalan Pak Syarwan....

*) Erisman Yahya, Kepala Kantor Badan Penghubung Provinsi Riau di Jakarta



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)