Alat pendeteksi tsunami berada di lautan. (internet)
Alat pendeteksi tsunami berada di lautan. (internet)

Pendeteksi Tsunami Tak Berfungsi. BPPT Siap Pimpin Rekayasa Teknologi

MENITRIAU.COM - JAKARTA - Tidak berfungsinya sebanyak 22 alat pendeteksi gelombang pasang dan tsunami bernama Buoy sejak 2012 lalu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi siap memimpin merekayasa teknologi.

Melihat kerentanan kawasan pesisir Indonesia dalam menghadapi bencana tsunami, jelas sangat membutuhkan solusi teknologi. Skema pemodelan ataupun simulasi kedatangan tsunami dianggap tidak cukup akurat untuk menanggung resiko korban nyawa.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, mengatakan, butuh infrastruktur yang mampu memberi peringatan dini akan datangnya gelombang tsunami.

"BPPT punya pengalaman dalam membuat BUOY pendeteksi tsunami dan siap jika ditunjuk untuk membuatnya lagi," ujar Hammam dalam siaran pers BPPT yang dipublish di situs resminya, Kamis (4/10/2018) malam. 

Hammam menuturukan, peran BUOY sangat penting dalam hal memberi data yang akurat ketika gelombang berpotensi tsunami muncul. Hal ini tentunya akan menunjang dan menguatkan data pemodelan yang dilakukan sebelumnya.

BPPT, kata dia, sempat memimpin tim pembangunan dan operasionalisasi Buoy Tsunami Indonesia. Perekayasa dan Peneliti di BPPT mampu membuatnya kala itu. (Baca juga: BNPB: Alat Pendeteksi Tsunami Indonesia Tidak Aktif Sejak 2012)

Saat ini, untuk program pengembangan BUOY deteksi tsunami, BPPT melakukan inovasi dengan teknologi Cable Based Tsunameter (CBT). CBT ini telah dikembangkan di beberapa negara dan dimanfaatkan antara lain oleh Kanada, Jepang, Oman, dan Amerika Serikat. 

Ia melanjutkan, BPPT tengah mengembangkan teknologi kabel laut untuk sensor gempa dan tsunami. Karenanya, Hammam berharap BPPT diberikan kesempatan untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam merekayasa teknologi untuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

"Sistem peringatan dini tsunami berbasis kabel laut ini nantinya akan lebih efisien dalam konteks biaya operasionalnya. BPPT mampu berbuat lebih untuk membuat produk inovasi dalam rangka mitigasi bencana. Saya ingatkan, kita tidak bisa menghentikan bencana. Namun dengan pengetahuan dan teknologi, kita bisa membuat alat deteksi tsunami untuk mengurangi korban," paparnya yang dirilis dari sindonews.com, Jumat (5/10/2018).

Hammam menambahkan, dalam forum komunikasi antar perekayasa CBT di seluruh dunia, disepakati CBT menjadi pilihan sebagai alternatif terhadap permasalahan yang dihadapi oleh BUOY, yakni vandalisme dan mahalnya BUOY. 

Draft resolusi pemanfaatan CBT juga telah diajukan dalam pertemuan Sidang Executive Council (EC) World Meteorological Organization (WMO) EC-70 pada 20-29 J uli di Jenewa dan Dewan Eksekutif Inter Governmental Oceanographic Commission atau Komisi Kelautan Antar Pemerintah (IOC) ke 51 pada Juli lalu di Paris dan telah disetujui menjadi afirmasi internasional. 

Menurut dia, implementasi resolusi WMO dan IOC/UNESCO dalam pemanfaatan CBT juga perlu melibatkan International Telecommunication Union (ITU). Intinya, BPPT menilai pentingnya penguasaan teknologi yang optimal untuk kesiapsiagaan bencana. Teknologi peringatan dini atau early warning system, dalam hal ini BUOY, mutlak diperlukan untuk langkah mitigasi awal, serta menghindarkan potensi korban nyawa yang besar.

Kesiapsiagaan bencana harus diawali dengan adanya langkah mitigasi sangat penting agar masyarakat di wilayah yang berpotensi bencana, memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini atau early warning system, baik untuk tsunami maupun untuk bencana lain," pungkasnya. ***



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)