H. Hadimihardja. (istimewa)

Jadilah Seorang Pemimpin Bukan Seorang Bos

MR/AR | 15 May 2019

MENITRIAU.COM - Pengertian pemimpin secara umum adalah individu yang diberi amanah oleh pengikutnya untuk memimpin mereka. Pemimpin bisa juga dikatakan seorang yang menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah organisasi.

BOS adalah orang yang berkuasa mengawasi dan memberi perintah kepada orang lain atau karyawan. Dimasa lalu pemimpin adalah BOS. Namun sekarang pemimpin harus menjadi fatner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tidak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka.

Asahlah hati untuk bagaimana memimpin karyawan dalam suatu organisasi dengan baik, menyentuh, menyelami, mengetahui dan memahami kehifupan oramg lain serta tingkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap anggota/karyawan guna mengetahui permasalahan yang dihadapi  mereka.

Setiap manusia pasti bakal ketemu pemimpin dikehidupannya, tapi terkadang kita tidak tau, mana yang berkarakter pemimpin dan mana berkarakter BOS.

Pemimpin yang baik tidak akan sibuk "eksis" sambil menonjolkan dirinya sendiri. Dia akan memberikan kesempatan kepada orang lain agar bisa sukses dan bersinar. Dia tahu kalau kesuksesan orang lain tidak akan mengurangi apa yang sudah dia miliki.

Betapa orang gagal untuk menjadi pimpinan karena tidak berlaku sebagai pemimpin, melainkan berlaku sebagai BOS. H. Gordon Selfridge adalah pendiri salah satu departemenr store (pusat perbelanjaan) terbesar di dunia yang ada fi london. Ia mencapai kesuksesan tersebut dengan menjadi seorang "PEMIMPIN" dan bukan dengan menjadi "BOS"

Apakah perbedaan antara "Pemimpin" dan "BOS" Hadi diberbagai kesempatan pelatihan/Workshop/Penataran Guru/Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah menjelaskan. Gordon Selfridge memberikan perbandingan antara orang yang bertipe/berkarakter Pemimpin dan orang yang bertipe/berkarakter BOS. Seorang pemimpin mengilhami karyawan, sedangkan seorang BOS memperkerjakan karyawannya. Seoramg Pemimpin mengandalkan kemauan naik, sedangkan seorang BOS mengandalkan kekuasaannya. Seorang pemimpin memamcarkan Cinta dan Kasih Sayang kepada karyawannya, sedangkan seorang BOS menimbulkan Ketakutan terhadap karyawan. Seorang Pemimpin selalu mrngatakan Kita, sedangkan BOS selalu mengatakan Aku. Seorang Pemimpin menunjukkan apa yang salah. Sedangkan seorang BOS menunjukkan siapa yang brrsalah. Kemudian seorang Pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya, tetapi seorang BOS  tahu bagaimana sesuatu dikerjakan. Seorang Pemimpin membangkitkan rasa hormat, sedangkan seorang BOS menuntut rasa hormat. Seorang Pemimpin berkata "Mari kita pergi", sedang seorang  BOS  berkata "Pergi". Maka kita jika ingin sukses, jadilah seorang pemimpin, dan bukan seorang BOS.

Maka sebagai Pemimpin ditunyut dapat menerjemahkan kebijakan strategis srcara arif dengan loyalitas yang tinggi, sekaligus mampu mengelola sumberdaya yang tersedia dengan penuh tanggungjawab, serta mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitad, dan akuntabilitas.

Menjadi pemimpin harus dilandasi oleh niat baik  yang didasari dari niat untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat. Jadikanlah masa lalu sebagai pengalaman yang paling berharga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat yang baik, demikian sebaliknya. Bangsa ini membutuhkan seorang pemimpin yang bijak, dan bukan memilih BOS.

Bercermin dari sebuah kisah, dimana seorang dermawan yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan. Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia bagikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.

Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang, maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kabar ini si dermawan hanya mengatakan ya Allah aku telah memberikan uang kepada seorang penjahat.

Dilain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kepada seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata ya Allah aku telah memberikan uang kepada koruptor.

Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang pada hari yang lain, dia segera menyerahkan sejumlah uang yang memang telah ia siapkan. Maka esok harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang yang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata ya Allah aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor, dan seorang yang kaya raya. Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang "CEROBOH". Asalan saja memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya. Pada hal jika dia lebih teliti, maka niat baiknya itu bisa lebih berguna disalurkan kepada orang yang memang membutuhkan. Tapi ternyata suatu niat yang baik pasti akan berakhir dengan baik. Begitu pula dengan "Kecerobohan" si dermawan.

Uang yang diberikan kepada si penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koruptor, usng cuma-cuma yang diyerimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad merubah dirinya menjadi orang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yang diterima oleh orang yang kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yang kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu haruslah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhanaannya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.

Para pembaca yang mau berpikir dan mau memahami. Tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sesuatu kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukan soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan. Perbuatan baik tidak pernah sia-sia. Maka apabila diamanahkan jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik, dan bukan BOS. ***

*) H.Hadimihardja, mantan Kepala Balitbang Provinsi Riau


Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)