Ilustrasi. (internet)

Maulid Nabi Momen Teladani Rasulullah SAW

MR/AR | 08 Nov 2019

MENITRIAU.COM - JAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas mengatakan, ada perbedaan pendapat tentang Maulid Nabi di kalangan umat Islam tapi harus tetap saling menghormati. Tapi ada hikmah di balik Maulid Nabi yaitu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah.

"(Nabi Muhammad SAW) adalah sosok yang akan kita tiru dan kita teladani, baik dalam hal yang berhubungan dengan akidahnya, ibadahnya, akhlaknya dan muamalahnya," kata Buya Anwar kepada Republika, Kamis (7/11/2019).

Ia menerangkan, jadi salah satu hikmah Maulid Nabi ini umat Islam bisa niru dan meneladani cara berpikir, berbicara dan perilaku Nabi. Buya Anwar juga menjelaskan, hidup di zaman Nabi berbeda dengan hari ini tapi hal-hal yang sudah ada ketetapannya yang jelas dalam Alquran dan Sunah tidak boleh diubah. Tapi kalau yang belum diatur secara jelas itu menjadi tugas kita untuk melakukan ijtihad. 

Ia mencontohkan di zaman Nabi belum ada bank, pasar modal dan asuransi. Tapi Rasulullah telah mengajarkan nilai-nilainya sejak dulu seperti melarang manusia terlibat dalam praktik riba. Umat Islam juga dilarang terlibat dalam praktik tipu-tipu dan perjudian serta berbohong. Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah itu harus dibawa ke dalam kehidupan dan transaksi bisnis. 

Tapi karena bentuk bisnisnya belum ada di zaman Nabi maka para ulama melakukan ijtihad. Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan ijtihad dan mengeluarkan fatwa.

“Sehingga ada ada fatwa yang berhubungan dengan produk-produk bank syariah, ada fatwa yang berhubungan dengan produk asuransi syariah, ada fatwa yang berhubungan dengan pasar modal dan rumah sakit syariah," jelasnya.


Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)