Hajime Moriyasu (kiri) dan STY. (internet)
Hajime Moriyasu (kiri) dan STY. (internet)

Moriyasu, Agony di Qatar dan Indonesia

MENITRIAU.COM

Catatan : Hardimen Koto

Hiroshima, 8 November 1992, Jepang merengkuh Piala Asia pertamanya. Gol tunggal Takuya Takagi meruntuhkan Arab Saudi.

Tidak cuma gelar juara. Jepang juga dapat gelar Best Player untuk Kazuyoshi Miura. Yang menarik, skuad Hans Marius Ooft diisi materi bagus. Ada Masami Ihara, Ruy Ramos dan tentu Hajime Moriyasu.

Tapi, setahun setelah juara di Hiroshima, skuad Ooft dengan Moriyasu dkk kandas ke Piala Dunia AS 1994. Di Doha, Qatar, pada 1993, Jepang kalah produktif dari Korea Selatan.

Dan, Moriyasu terus menyimpan agony itu. Pahit. Sampai datang 2018, ketika dia menggantikan Akira Ishino. Moriyasu bahkan pasang "iklan" satu halaman dengan nukilan penting: Doha 1993 adalah kegagalan besar. Mimpi kami hancur.

Lalu, datang Piala Dunia 2022 Qatar dan skuad Moriyasu menyedot atensi dunia: lolos ke perdelapan final dengan status juara grup. Spirit Samurai dengan gaya Ganbatte menyungkurkan Jerman, juga Spanyol.

Sayang, Jepang kandas kepada Kroasia. Sakit, sebab itu via adu penalti dan saya menyaksikan langsung bagaimana Moriyasu membungkuk dalam di Al-Jannoub Doha: meminta maaf kepada fansnya.

Situasi ini persis sama di Piala Dunia Rusia 2018 saat saya menyaksikan Jepang kandas kepada Belgia di Rostov on-Don, 2 jam dari Moscow. Juga di perdelapan final.

Kini? Kini, Moriyasu punya tugas seksi: datang ke Qatar lagi dalam medium Piala Asia. The Samurai Blue bahkan punya embel-embel baru: The King of Asia, selain julukan Cahaya Asia, Spirit Asia dan banyak lagi.

Jepang pede. Mereka ke Qatar dengan rekor hebat: 10 kali tak terkalahkan, termasuk Jerman dan Turki. Mayoritas dengan skor besar.

Tapi, suka atau tidak, Qatar seolah-olah jadi momok buat skuad Moriyasu. Vietnam menyerah 2-4 dalam match pertama, tapi sempat leading. Match kedua: Jepang malah disungkurkan Irak 2-1. Yang tak mungkin jadi mungkin.

Jadi, match ketiga vs Indonesia pada Rabu (24/1/2024) menjadi laga penting buat Jepang: mesti meredam skuad STY kalau mau lolos ke fase gugur.

Bisa? Bisa harusnya. Jepang adalah peraih lima kali Piala Asia, terbanyak dalam sejarah. Piala Asia terakhir, 2019 di UEA, mereka juga finalis. Melawan Indonesia, peringkat FIFA-nya berbeda sangat tajam, 125 anak tangga. Indonesia 142, dan Jepang 17 alias nomer satu di Asia.

Tidak mudah buat kita. Buat STY. Dulu ada istilah: David vs Goliath.

Tapi, lawan mereka Garuda! Maju tak gentar. Tunjukkan yang terbaik. Bikin Jepang meradang! Bikin Jepang mengalami agony lagi di Doha. 

Main total, fokus, hindari kesalahan sekecil apapun. Bikin sejarah. Dan lalu kita bisa  menjelaskan: ada Indonesia, tim yang progresif dan Insya Allah ke fase gugur Piala Asia.  ***



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)