Said Mustafa Husin. (dok)
Said Mustafa Husin. (dok)

Membangun Semangat Nasionalisme di Era Globalisasi

MENITRIAU.COM - Era globalisasi seperti golbalisasi ekonomi, informasi dan kebudayaan yang didukung disrupsi teknologi digital telah menyebabkan mulai lenyapnya batas-batas ruang, teritorial, suku, bahkan bangsa dan negara

Ruang global yang tanpa disadari bahwa kita kini tengah berada di dalamnya, dibentuk oleh susunan dan tatanan elemen-elemen yang baru yang pada satu titik perkembangannya akan menciptakan halusinasi ruang atau juga simulacrum ruang

Sampai pada puncaknya nanti, batas-batas global akan lenyap seiring meningkatnya interaksi global lewat wacana ekonomi dan komunikasi, bahkan segmentasi sosial akan ikut kehilangan batas strukturalnya

Tatkala mesin-mesin sosial berkembang ke dalam skala global ada kecenderungan akan terbentuk segmentasi sosial yang tidak lagi mengikat diri secara struktural pada pada segementasi yang terikat ruang dan waktu tetapi segmen sosial justeru akan melepaskan ikatan ruang dan waktu

Segmen-segmen sosial ini beroperasi dalam skala global tanpa terikat oleh batas teritorial dan batas ruang. Segmen sosial dalam skala global ini akan menciptakan deteritorialisasi ruang yakni membongkar struktur teritorial yang ada dan berpindah dari satu teritorial ke teritorial lainnya

Fenomena ini tentu menjadi salah satu ancaman bagi setiap negara termasuk negara kita Indonesia dalam membangun semangat nasionalisme anak bangsa. Permasalahan yang kini dihadapi tidak cukup dengan pola yang selama ini diterapkan karena diyakini tidak akan efektif lagi 

Selama ini untuk menbangun nasionalisme anak bangsa, kita hanya berkutat dengan metode seprti refleksi sejarah, menggiatkan upacara bendera, memperkenalkan keragaman budaya, pendidikan kewarganegaraan, pengenalan tokoh sejarah atau mencintai produk dalam negeri

Pemerintah harus sudah memiliki cara-cara efektif dan efisien, terukur dan terarah dalam membangun semangat nasionalisme anak bangsa ditengah era globalisasi. Namun sejauh ini, belum terlihat langkah-langkah yang dilakukan pemerintah. 

Langkah ini seharusnya sudah disusun pemerintah dari menginventarisir berbagai permasalahan dan ancaman yang dimunculkan globalisasi. Langkah yang berkait kelindan dengan fenomena globalisasi yang kini dihadapi

Ada catatan menarik, Yasraf Amir Piliang dalam karya filsafatnya Posrealitas pernah mengingatkan bahwa segmen-segmen sosial dalam skala global bukan saja menciptakan deteritorialisasi tapi juga membongkar struktur teritorial yang ada sehingga menciptakan halusinasi ruang. 

Misalnya ruang sosial kapitalisme global. Ruang ini selalu dihuni oleh segala macam pergerakan deteritorialisasi yang bergerak dalam kecapatan tinggi seperti pergerakan kapital, industri, gaya dari satu territorial ke teritorial lainnya

Gaya yang bergerak dalam kecepatan tinggi akan memacu mesin-mesin hasrat tanpa henti seperti hasrat mencari kesenangan baru, hasrat mencari kegairahan baru atau mencari identitas baru untuk identitas diri

Dari fenomena ini Yasraf Amir Piliang dalam karya filsafatnya mengingatkan pula bahwa kebudayaan akan tercerabut dari teritorialnya untuk kemudian berputar dalam ruang kapitalisme global. 

Betapa mengerikan kalau saja anak bangsa tak mampu lagi menunjukkan identitasnya lewat budaya sebab budaya akan tercerabut dari akarnya, dari teritorialnya. Tidakkah ini ancaman dalam membangun rasa nasionalisme anak bangsa. Sisi buruk globalisasi sngat-sangat mencemaskan ***

*) Said Mustafa Husin, penulis wartawan senior, Dewan Penasehat PWI Provinsi Riau.



Bagikan :
Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)