Hendro Basuki. (dok)

Revolusi Dimulai dari Meja Makan

MR/AR | 12 Apr 2023

MENITRIAU.COM - Berapa makanan sisa yang Anda buang setiap pagi? Saya menduga, bisa mencapai  10-20 persen. Bahkan mungkin lebih. Bentuk makanan dan masakan yang tak bisa tahan lama, kemungkinan besar akan ditaruh dalam kantong plastik, dan dibuang.

Bisa saja sayur. Tetapi bisa juga bentuk-bentuk makansn gorengan. Ada tempe goreng yang tak habis dikonsumsi. Tak bisa disimpan lagi di kulkas. Ada ikan, dan daging basah. Ini satu rumah tangga.

Coba tengok tetangga. Berapa kantong plastik limbah makanan dari hotel. Jika sempat  berjalan di lorong-lorong hotel, perhatikan di kanan kiri pintu kamar. Berapa makanan tersisa di piring yang tak lagi bisa dikonsumsi. Begitu juga, bagaimana dengan sisa makanan dari restoran? 
Seolah sisa makanan itu  semata  limbah. Dibuang, selesai!. Tetapi pernahkah kita berpikir, berapa juta rumah tangga yang berperilaku seperti itu! Dalam skala nasional, atau pun global.

Hilang & Sisa

Perilaku seperti itu bukan hanya di sini. Tempat di mana Anda sempat membaca opini ini. Tetapi  perilaku umum yang terjadi di belahan dunia mana pun.
Saya mencoba berkaca pada diri sendiri.

Kebetulan penulis suka memasak. Saya perhatikan, bagaimana limbah ini tercipta. Sejak kita menentukan jenis dan bahan masakan, sejak itu pula limbah dimulai.

Ketika memilih dan memilah daun kubis,wortel, brokoli, pak choi, tomat, peter selly, dimulailah mencipta limbah. Lalu, setelah bubar makan malam, ke mana sisa mskanan diarahkan? Sebagian besar kita mengambil sikap. Buang! Belum lagi bahan yang sudah kedaluwarsa di kulkas. Jika punya ternak, bisa dipakai asupan ekstra untuk ayam, bebek, atau yang lain.

Tetapi bagaimana dengan orang perkotaan? Ya pasti ke TPA. Dan, makin besar kota, berton-ton limbah makanan. 
Ada beberapa kategori berbeda atas nama  makanan terbuang.

“Kehilangan makanan” mengacu pada produk pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tidak dimakan. Itu terjadi selama tahap produksi dan distribusi makanan. Ini juga disebabkan oleh penurunan kuantitas atau kualitas makanan.Kegiatan pasca panen yang tidak efisien.

Ini dapat terjadi karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin ada gangguan karena fluktuasi penawaran dan permintaan atau pembusukan karena kondisi cuaca buruk.
Sedangkan  “Sampah makanan”, di sisi lain, mengacu pada makanan yang dapat dimakan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia, tetapi malah dibuang atau kedaluwarsa. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai situasi selama persiapan, penjualan, atau layanan makanan. Ini termasuk sisa piring, makanan busuk, dan kulit  yang dibuang.

Anda tentu sudah pernah menghitung bahwa sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang secara global. Jumlahnya sekitar 1,3 miliar ton per tahun, bernilai sekitar US$1 triliun .

Semua makanan yang diproduksi tetapi tidak pernah dimakan,  dan sebenarnya   cukup memberi makan dua miliar orang . Itu lebih dari dua kali jumlah orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia. Anda pernah membaca berita atau menonton televisi tentang kelaparan yang sering melanda dunia. 

Tetapi, mungkin kita tak pernah membayangkan bahwa  makanan yang terbuang itu adalah  "sebuah negara", negara tersebut akan menjadi penghasil karbon dioksida terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan China.

Lalu jika kita perhatikan lebih serius lagi, Jakarta tentu membuang limbah makanan lebih besar dari Medan, atau Padang. Begitu juga konsumen di negara kaya hampir pasti  menyia-nyiakan makanan hampir sebanyak seluruh produksi makanan bersih Afrika sub-Sahara setiap tahun.

Revolusi

Dalam beberapa laporan, PBB 2023 menyebutkan, secara global, sekitar 14 persen makanan yang diproduksi hilang antara panen dan penjualan eceran. Jumlah yang signifikan juga terbuang di tingkat eceran dan konsumsi.

Diperkirakan 17 persen dari total produksi pangan global terbuang sia-sia (11 persen di rumah tangga, 5 persen di layanan makanan, dan 2 persen di ritel) Pangan yang hilang dan terbuang menyumbang 38 persen dari total penggunaan energi dalam sistem pangan global.

Jika melihat angka tersebut, maka patut diduga, rumah tangga, hotel dan restoran, dan ribuan mall bertanggungjawab atas persoalan limbah mskanan ini.

Dari tiap rumah tangga, dampak dari sisa makanan ini seolah sangatlah kecil. Tetapi, jika dilihat dari skala global, angkanya sungguh menakutkan. 

Dampak langsung yang bisa kita lihat dengan pengalaman kita sendiri adalah pemborosan. Padahal masih banyak pemborosan, selain sisa makanan. Berapa kwh listrik yang terbuang ketika satu dua bolam lampu Anda biarkan menyala nonstop. Berapa liter air terbuang sia-sia. 
Dampak lain adalah perluasan lahan tanaman pangan. Mestinya, 1.000 hektare cukup, tetapi karena pemborosan menjadi butuh lebih luas lagi.

Dan, yang pasti terjadi, limbah makanan yang berjuta-juta ton itu memberi dampak besar pada perubahan iklim.

Tidak ada resep mujarab atas soal ini, kecuali lewat revolusi di meja makan. Kendalikan sisa makanan. Tetapkan di tingkat Nol Persen. ***

*) Hendro Basuki, penulis warga Gunungpati-Semarang, Jawa Tengah 


Bagikan tulisan ( berita/opini ) anda ke TIM Redaksi kami
Email : redaksi@menitriau.com
(Sertakan Foto dan Data Diri Anda)